Pledoi

Aku tetap susah mengubah kata-kataku bahwa aku bermain-main dengan cinta karena itu memang keluar dari keseluruhan diriku. Tapi yang kuharap kamu mengerti adalah keseluruhan hidupku main-main. Kalau aku bermain denganmu berarti keseluruhan hidupku bermain denganmu. Apa itu kurang serius?

Ja begitoelah. Analoginya, kalau sepakbola kamu anggap permainan juga, lihatlah betapa aku selalu serius di lapangan sampai megap-megap kehabisan nafas. Continue reading

Ah, Jikustik Jadi Nggak Asyik

Ini berita nan basi banget. Aslinya sudah sejak beberapa bulan yang lalu harusnya aku tahu. Tapi ya namanya saja profesional muda, tentulah aku sungguh sibuk sehingga mau tiada mau terpaksa ketinggalan berita.

Jadi kali ini aku ketinggalan berita tentang Jikustik, 1 band yang aku suka, yang buktinya kukoleksi semua file mp3-nya (persetan dengan si Tiffie!). Aku baru tau kalo Jikustik sudah ditinggal sama Pongki. Taunya juga bener-bener baru aja. Dan sebagai ganti Pongki, sekarang Jikustik mengandalkan conthongnya Brian sebagai vokalis utama. Continue reading

Donlot Lagu di Internet Masuk Penjara?

Subuh-subuh tadi akika baca berita, bo’. Katanya si berita, Pak Tiffie yang Menkominfo itu bakal jadi jagoan lagi gitu, deh, cyiiin~ Dia, eh, beliau bakal memenjarakan manusia-manusia Endonesa yang nekad donlat-donlot lagu-lagu bajakan milik artis-artis Endonesa di Internet (yang artis luar negeri ndak disebut. Mungkin sama dia, eh, beliau, artis luar negeri itu mayoritas dianggap kafir, jadi boleh dirugikan serugi-ruginya). Continue reading

Perempuan

Perempuan yang aku kasihani, perempuan yang membuatku merasa bersalah dan punya hutang, perempuan yang rasanya harus selalu ta’jaga bin ta’lindungi, dan perempuan yang memang kusukai. 3 yang pertama sebisa mungkin kuhindari buat kujadiin pacar (lagi). Sudah kapok. Kalo lagi pengen (sedikit) cuek, kok, ya rasanya ada beban.

Jadilah akunya sendiri nggak enjoy waktu menjalani hubungan.

Itu dia alasannya kenapa akhirnya kamu nggak pernah kupacarin sampai sekarang, Beib. Aku takut kalo nanti kamunya kutinggal-tinggal.

Gadget Generation

Tulisan ini dibuat gara-gara draft-nya sudah ngumpul di otak sejak Ramadhan tahun lalu. Dan berhubung sekarang sudah hampir Ramadhan lagi, kayaknya jadi nggak enak juga kalau tulisan ini ndak terbit-terbit.

Tulisan ini dibuat gara-gara si Wib pernah cerita ke aku, tentang junior-juniornya di sanggar teater yang dia pisuh-pisuhi, padahal sebelumnya – sepengakuannya – dia nggak pernah misuh sekasar itu ke junior-juniornya yang lain.

Tulisan ini dibuat gara-gara Septo bilang, sepertinya ada generation gap di antara generasi kami dan generasi di bawah kami seputar urusan gadget. Kata Septo, kami, kalau beli gadget biasanya menyesuaikan gadget yang mau dibeli dengan kebutuhan kami. Sementara yang sekarang, orangnyalah yang menyesuaikan diri dengan fitur yang disediakan sama gadget-nya. Continue reading