Browsing posts in: Daily Waton

Launching-nya Bengawan: Sebuah Laporan Perjalanan Dinas

Kemarin Jumat (atau malah kemarinnya lagi, ya? Aku lupa) aku dapat mandat dari Mas Anton, sesepuhnya Bali Blogger Community alias BBC, buat dateng ke acara launching-nya Bengawan, komunitasnya blogger Solo dan sekitarnya, dengan status sebagai utusan resminya BBC. Tentu saja ndak ada masalah dengan hal itu. Jokja-Solo itu cuma 1 jam naik kereta Prameks, ditambah leluhurku yang aslinya memang orang Solo, jadinya ya aku bangga-bangga aja ditunjuk Mas Anton buat dolan ke Solo sebagai satu-satunya wakilnya BBC. Sekalian sebagai pelipur lara gara-gara sampai umur segini aku belum pernah ditunjuk sama PSSI buat jadi salah satu wakil Endonesa di timnas seniornya. Continue Reading


Seperti Joker dan Rajawali Langit

Gara-gara nggak dapet temen dinner pas kemarin malam, akhirnya aku ditemenin sama Lutfi, sang polisi India, buat makan pizza di Nanamia Pizzeria. Apa boleh buat, daripada tenguk-tenguk sendirian nggak punya temen ngobrol pas lagi makan, aku terpaksa harus merelakan diri sampai sedemikian-rupa. Lumayanlah, di Nanamia, kami masih bisa lirak-lirik cewek-cewek imut yang pada makan di situ. Makan di daerah kekuasannya Sanata Dharma dan Atmajaya betul-betul beda aura. Di situ seger, nggak kayak di daerah Bulaksumur – markasnya Gadjah Mada – yang ceweknya tiada semodis cewek-cewek di 2 kampus sebelumnya :mrgreen: Continue Reading


Habis Sudah Gadis-gadisku

Ini sudah tahun 2009. Jadi kalo diitung-itung, sejak 2002, aku sudah nyaris 7 tahun mendekam di Jokja.

Dan malam ini aku baru nyadar kalo gadis-gadisku ternyata sudah pada minggat. Ada yang disekap cowok lain buat dijadiin istrinya, tapi kebanyakan minggatnya gara-gara sudah lulus kuliah dan kerja di luar Jokja. Hana dah nikah, Yoan kerja di Bali, Noy juga pulang ke kampungnya, di Bali juga, Ayu? Sejak serius ngerjain skripsinya, doi tiada bisa lagi dipaksa untuk duduk di jok belakang motorku. Afifah? yang ini, sih, memang dari dulu nggak pernah mau sama aku :mrgreen: Terus sisanya rata-rata pada nekad ke ibukota (padahal aku sudah bilang kalo ibukota itu lebih kejam daripada ibu tiri, tapi, eee…mereka pada ngeyel. Ya sudahlah, aku bisa bilang apalagi, coba?) Continue Reading



(Ndak) Penting

Hari ini, tertanggal 10-2-2009, jam 01.06 versi monitorku, aku ngantuk. Jadinya sekarang aku mau bobo dulu. Semoga mimpi basah indah tentang gadisku tercinta…


Bertahan dengan Idealisme

Aku punya cita-cita. Cita-cita yang (sok) mulia. Aku kepengen jadi guru, yang tentunya jadi guru yang tidak didasari karena sebuah keterpaksaan. Aku kepengen jadi guru karena memang kepengen punya profesi sebagai seorang guru, dan bukan karena tidak ada profesi lain lagi yang bisa kugeluti.

Almarhum eyang kakungku dulu pernah berpesan, mau jadi apapun kamu, jangan pernah lakukan dengan setengah-setengah. Kasarannya, kalau aku kepengen jadi maling, aku harus jadi maling yang hebat supaya ndak bisa kepergok massa atau juga ditangkap sama bapak-bapak polisi kita, apalagi bapak polisi dari India. Continue Reading


Tetap Qana’ah, Joe

Gara-gara hujan deras yang turun tak kunjung berhenti kemarin lusa malam, aku terpaksa ngendon di (bekas) kampusku berlama-lama barengan Aphip, Nyepto, Ceper, dan juga Wiwid Tengik Tukang Tipu (gadis-gadis polos yang belum tau kadar kebejatan yang dimiliki oleh yang bersangkutan).

Hujannya ndak berhenti-berhenti, pembaca. Sampai akhirnya Wiwid memutuskan menerobos kerumunan air bersama Honda Supra FI-nya, sedangkan aku memilih untuk menanti redanya sang hujan di teras kampus bersama 3 makhluk butut yang tersisa. Continue Reading


Bayar Dulu, Tuan!

1 hal lagi, tolong dihapus blog ini karena saya orang/umat ISLAM, anda telah merendahkan dan menistakan diri anda sendiri dan UMAT ISLAM dan satu-satunya yang menilai kita/umat adalah ALLAH SWT.

Perkara apakah tulisanku menistakan agamaku sendiri atau tidak, wew, itu jelas masalah interpretasi masing-masing personal. Walaupun aku bilang kalo aku nggak punya maksud kayak gitu tapi kalo orangnya ngeyel nuduh aku seperti maunya dia, ya walaupun aku ini tampan, aku bisa bilang apalagi, coba? Continue Reading


Selamat Tahun Baru (Judul Standar)

Selamat Tahun Baru Masehi, sodara-sodara semua! Selamat Natal, Selamat Tahun Baru Hijriyah juga. Mohon maaf kemarin aku ndak sempat ngucapin selamat-selamat itu lewat blog ini. Soale kemarin-kemarin ini blogku nggak bisa diakses gara-gara kehabisan benwit. Biasalah, namanya juga orang sibuk, jadinya blogku beberapa bulan terakhir selalu kehabisan benwit tiap lewat tengah bulan menjelang akhir bulan. Begitu, bisa dikopi? Ganti!

Ndak bisa? Bingung? Bingung korelasinya di mana? Continue Reading


Sedang Sibuk. Sungguh Mati!

Buat penggemar yang menuntut supaya blogku segera diapdet lagi, beta mohon maap. Sejauh ini daku lagi sibuk belajar membiasakan diri dengan panel admin-nya Joomla (yang njelimet itu) dan menyusun draft demi draft esai tentang Ramawijaya, lakon utama cerita Ramayana, dalam rangka mem-playmaker-i si Lutfi yang mau mendaftarkan dirinya buat ngikutan Lomba Penulisan Esai “Tokoh Rama dalam Budaya Jawa”-nya jurusan Sastra Nusantara FIB UGM. Sekali lagi, atas segala ketidak-nyamanan di kala tidak bisa menikmati tulisan-tulisan baru di blog ini, hamba mohon maap yang sebesar-besarnya. Terima kasih.


Hai, Mas Joe

Tadi siang, waktu transit di Milan (MIPA Selatan, maksudku) UGM – buat nunut ke toilet sebelum berangkat kuliah Akta 4 di kampus terpadunya UII – dari kantor, di depan lab, sambil berjalan cepat-cepat gara-gara kebelet pipis:

“Hai, Mas Joe,” sapa seorang gadis (eh, nggak tau juga, ding, masih gadis atau sudah enggak 😈 ) berjilbab, berparas lumayan manis yang lagi duduk-duduk di situ.

“Hai juga,” balasku sambil masang senyum alakadarnya (sumpah cuma alakadar! Lha wong lagi kebelet pipis, kok) dan langsung kembali berjalan cepat-cepat.

Kemudian samar-samar kedengeran suara bisik-bisik dari arah belakang, “Memangnya Mas Joe tau namaku?”

Duh! Yakin, jadi nggak enak ati akunya. Sering disapa sama dia tiap ketemu, tapi sampai sekarang aku nggak tau dia itu anak program studi apa, angkatan berapa, dan bahkan namanya. Kemarin-kemarin, sih, aku memang masih suka nyombong, “Kalo aku nggak tau siapa mereka, itu wajar. Tapi kalo sampe mereka yang nggak tau siapa aku, keterlaluan. Statusnya sebagai mahasiswa MIPA patut dipertanyakan.”

Tapi, kok, akhirnya aku jadi nggak enak ati ya, kalo harus denger sendiri secara live pertanyaan ngenes kayak yang di atas itu tadi? πŸ™