Hasil njajal-njajal:

Kalo mau bikin juga, silakan langsung ke tekapenya sendiri. Ndak usah ta’anterin, kan? Toh udah pada gede ini.
Hasil njajal-njajal:

Kalo mau bikin juga, silakan langsung ke tekapenya sendiri. Ndak usah ta’anterin, kan? Toh udah pada gede ini.
Kalo kemarin aku sempat bilang “Tekken” plus “Darah Garuda” itu butut, barusan aku nonton film yang lebih butut dari 2 film itu.
Kuperkenalkan kepada kalian semua… Inilah diaaaaa… “The King of Fighters”, 1 film (lagi) yang diangkat dari sebuah game, yang kapan hari kemarin dapet kukopi dari leptopnya Yosepin.

Kadang-kadang, sodara-sodara, hal-hal yang sebenernya secara umum dikhususkan buat cewek bisa jadi lucu juga ketika kekhususan itu tidak ditegaskan, baik secara lisan maupun tulisan. Misalnya aja pada sebatang lowongan CPNS di sebuah instansi yang – gara-gara diperintah mamak – kuikuti di bawah ini. Sengaja ndak ta’sebut nama instansinya. Bukan karena aku takut ndak lolos seleksinya gara-gara menyebut nama instansi yang bersangkutan di blogku ini, tapi lebih karena, buat apa, toh sebentar lagi kalian, duhai sidang pembaca yang terhormat, juga bakal tau
Continue Reading
Seleraku kembali jadul lagi. Di Foobar2000-ku terpajang lagu-lagi sebagai berikut:
Bukan apa-apa, cuma sekedar mau pamer sahaja…

Aku dikasih kaos Kaskus sama si Kimbul dengan cuma-cuma. Ndak tau dia ngasihnya gara-gara apa. Semuanya serba tiba-tiba ketika dia nanya via SMS, “Mas, mau hadiah nggak?” Mungkin penyebabnya dikarenakan aku ini memang baik hati dan tampan ๐ Continue Reading
Sudah tau tentang Pak Menteri Kominfo kita, Tifatul Sembiring, bikin gojegan kepanjangannya AIDS di Twitter-nya masuk Straits Times? Kalo belum, sekarang ta’kasih tau, deh, kalo gojegan AIDS-nya Pak Menteri – yang dipanjangkan jadi “Akibat Itunya Ditaruh Sembarangan” – masuk Straits Times. Sudah siap? Oke! Eh, sodara-sodara, gojegan AIDS-nya Pak Menteri masuk Straits Times, lho. Yakinlah, sumpah!

Nah, aku baik, kan, udah mau ngasih tau sampeyan semua?
Continue Reading

Web-web jejaring sosial itu sedikit bikin repot! Continue Reading
Nemu ginian di buku “The Girls of Riyadh”-nya Rajaa Al Sanea:

Beh! Berarti frekuensi flirting-ku harus dikurangi kalo ndak kepengen bikin bingung pacar, tunangan, atau istri orang lagi. Mainan sama yang single aja, dah… ๐ฟ Continue Reading

Di 1 sisi, hal macam begini perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi. Sangat susah, lho, menyusun salad sampe dengan jadi macam tumpeng kayak di atas itu. Continue Reading

Mamak, Babah, kalo anakmu yang ganteng ini batal jadi Menteri Perindustrian, tolong akunya jangan dimarahin, ya…. Continue Reading
Sodara-sodara ada yang tau apa itu thin-slicing? Jika sodara-sodara ada yang pernah mbaca buku berjudul “Blink” karangannya Malcolm Gladwell, sudah pasti sodara-sodara ndak asing dengan istilah “thin-slicing”. Tapi jika sodara-sodara belum pernah nyentuh itu buku, ya okelah, berikut aku jelaskan secara singkat (berhubung malas menerjemahkan) kalo thin-slicing itu dapat didefinisikan sebagai berikut:
Thin-slicing is a term used in psychology and philosophy to describe the ability to find patterns in events based only on “thin slices,” or narrow windows, of experience. The term seems to have been coined in 1992 by Nalini Ambady and Robert Rosenthal in a paper in the Psychological Bulletin.