Browsing posts in: Daily Waton

Remaja Masa Kini

Urusan sesuk yo dipikir sesuk.

Si Mbak di Jokja punya kebiasaan: Setiap kali aku pulang ke Jokja, yang biasanya berlangsung kalau weekend aja, sesaat setelah ketawa-tawa beliau mesti habis itu jadi sendu. “Tapi besok kamu sudah balik lagi ke Jakarta ya?” keluhnya sambil bertanya dengan penuh retorika.

Kalau sudah begitu ya yang bisa kulakukan cuma nyengir sahaja. “Urusan besok ya dipikir besok,” demikianlah biasanya jawabanku. “Yang penting lak sekarang aku di depanmu tho?” lanjutku kemudian. Continue Reading


Ikhlas

Nek aku ra ngomong nek aku ikhlas, piye carane kowe-kowe ngerti nek aku ikhlas?

Konon diomongkan oleh si Ceper. Lengkapnya Ceperus Snape, manusia paling…paling…paling…paling apa ya? Paling sompret yang pernah kutemui di kampusku, dah! Alhamdulillah orangnya sampai sekarang belum wisuda-wisuda juga.

Terjemahannya kira-kira begini: Kalau aku nggak ngomong kalau aku ikhlas, gimana caranya kalian tau kalau aku ikhlas? Continue Reading


Ancaman Rasionalitas di Balik Pertanyaan “Kapan Kawin?”

Pertama-tama walaupun Lebaran sudah lewat semingguan, izinkanlah beta mengucapkan mohon maaf lahir dan batin karena beta sendiri barulah mulai cuti hari ini buat mudik ke kampung. Maka karena apa, sih, esensi dari Lebaran di Endonesa selain mudik ke kampung, ya beta pikir tiada mengapa jikalau beta baru minta maafnya hari ini. Iya tho? Iya kan? Mbok wis iya aja, deh.

Dan sebagaimana biasanya ritual tahunan di kampung, pertanyaan yang paling sering jadi pembahasan di media-media sosial seputar Lebaran adalah pertanyaan “kapan kawin?”. Maka daripada itu, mumpung masih di jalan, mumpung belum nyampe ke kampung, aku mau cerita seputar problem kawin-kawinan. Continue Reading


Menghadapi Jejakmu

Perkara hapus-hapusan jejak, pada dasarnya hal ini harusnya bisa dimaklumi. Memang ada beberapa orang yang berani menghadapi masa lalunya dengan gagah, sementara beberapa manusia yang lainnya justru pengen menguburnya, menghilangkan jejaknya. Membuka lembaran baru, kayaknya itu istilahnya. Continue Reading


Nyanyian Kode

Bicara tentang kode-mengkode, harusnya, sih, hal macam begituan itu sudah jadi kerjaanku sehari-hari. Sudah sejak lebih dari 10 tahun yang lalu aku didapuk sebagai manusia yang kudu paham masalah kode-kodean. Namanya saja sarjana komputer, alangkah malunya kalau aku ternyata tidak bisa merangkai kode. Jadi jelas sudah, seharusnya kode adalah bagian dari hidupku.

Tapi namanya saja hidup…kadang ada sahaja hal-hal yang berjalan dengan tidak sesuai dari yang seharusnya, misalnya ya masalah kode-kodean ini. Aku dan beberapa temanku yang seharusnya fasih sekali dalam urusan beginian seringnya malah mati-matian menghindari perkara jenis yang 1 ini. Continue Reading


Mas Mat dan Problem Hidupnya

Lantai di unitku ngendon di kantor sejak kapan hari kemarin kedatangan agen cabutan baru. Sebenarnya nggak baru-baru banget, sih. Sudah lama juga agen ini ada di kantorku. Hanya saja dia didinaskan di unit lain, di gedung sebelah, dan tentunya di lantai yang bukan lantai unitku. Jadinya mungkin lebih tepat kalau agen yang baru masuk di tempatku ini disebut agen baru tapi lama. Lebih tepat lagi kalau kita mau menyebutnya dengan panggilan “Mas Mat”, karena memang itulah namanya.

Mas Mat ini bukan agen lapangan seperti aku. Maka bisa ditebak kalau Mas Mat tidaklah menyandang lisensi untuk membunuh sepertiku, lisensi dengan kode 00 di depan nomor urut identitas keagenan sebagaimana yang lazimnya kita kenal. Adapun dengan tambahan 00 di depan nomor urutku, identitas keagenanku sendiri adalah 007 3/4. Continue Reading


Pengumuman Pemenang Kuis Buku “Bandar Lonte”

Pertama-tama izinkanlah beta memohon beribu-ribu ampun sebesar-besarnya. Dikarenakan cuaca buruk, tiba-tiba Pak Komandan di kantor memerintahkanku buat mengurai kasus di Pulau Dewata (dan sekarang sedang dilanjut ke Kendari), ketambahan si mamak nitip buat dibeliin sosis Soejasch khas Denpasar, cari oleh-oleh buat si mbak cantiq supaya dia nggak ngambek bahwa partner-nya mikirin negara melulu, koneksi internet yang ndilalahnya, kok, ya pas brengkes (baca: brengsek, John!) terus, dan juga sebatalyon hal yang harus buru-buru diurus lainnya, aku terpaksa telat mengumumkan pemenang kuis berhadiah buku karanganku yang berjudul “Bandar Lonte” itu. Continue Reading


Bagi-bagi Buku “Bandar Lonte” Bersama Beta

Hello, amigo, desperado, apa kabar semuanya?

Jikalau kabar kalian baik-baik sahaja, mari sini, eike berikan kabar yang lebih baik lagi.

Dalam rangka menyambut perjalanan dinasku yang sekaligus pulang kampung ke Denpasar besok awal September ini, sekaligus ultahnya adik iparku yang disambung sama ultah adikku sendiri yang jatuh pas September juga, maka dengan ini aku umumkan kalau aku mau bagi-bagi hadiah lagi. Karena apa? Karena – masih dengan alasan yang sama kayak kemarin-kemarin – aku ini baik hati. Continue Reading


Hei, Nan

Suatu Jumat sore, awal-awal semester pertama di Gadjah Mada, aku datang ke lobi Fakultas MIPA Utara dengan menenteng ransel berisi cawet, kutang, kaos, dan celana, juga seperangkat alat mandi yang sudah dibayar tunai. Sore itu rencananya aku bakal naik ke Kaliurang buat ikutan Computer Science Day 2002, acara malam keakrabannya anak-anak komputer Gadjah Mada angkatan baru. Dan di situlah aku kenal Hanan, orang yang bertahun-tahun berikutnya – mungkin – menganggapku sebagai teman baiknya. Continue Reading


Derajat Batal Puasa

Nguping.

X: “Iya, Mas, tahun kemarin saya batal puasa 3 kali. Susah kalau pengen puasanya full sebulan.”

Y: “Lho, kenapa?”

X: “Kampus saya, kan, di Unpar. Jadi ya teman-teman saya tetap makan. Itu yang bikin saya nggak tahan. Akhirnya kalau udah nggak kuat, udah aja saya ikutan makan.”

Y: “Yaaah…cuma gara-gara liat orang makan aja sampai batal. Payah, ah. Seenggaknya kalau mau batal puasa itu batalnya yang elit dikitlah, jangan yang pasaran.” Continue Reading


Cerita Robbie Fowler di Balik Football Legends

19 Mei kemarin aku dapat pesan via Whatsapp dari Fachry. Isinya tawaran. Tawaran syuting, aeh…tawaran buat ikutan terlibat di tim medianya acara Football Legends Tour 2014. Ditambah dengan iming-iming 1 slot khusus buatku untuk wawancara sama Robert Bernard Fowler, tentu saja tawaran itu sulit untuk kutolak. Ancaman kalau harus terpaksa meninggalkan biro detektifku selama 2 hari, plus 2 hari pas weekend kepakai untuk disibukkan sama acara yang bersangkutan, sama sekali tidak membuatku gentar. Ini Robbie Fowler, Bung! Bekas dewanya Stadion Anfield, mesin gol sekaligus wakilnya Kapten Jamie Redknapp dari pasukan treble winnersnya Liverpool untuk Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA tahun 2001, yang kemudian berlanjut sebagai jawara Piala Super Eropa. Continue Reading


Pages:1234567...18