Layla & Majnun: Laki Bukan, Sih?!

Sebenarnya dan sejujurnya, aku ini nggak pernah punya niatan jadi misoginis. Cuma, ya gara-gara dari kecil dapat hardikan kalau anak cowok itu nggak boleh cengeng, laki-laki itu harus begini dan begitu, mau nggak mau pola pikir keberpihakan macam barusan jadi tertanam di benakku. Citra ideal seorang laki-laki jadi terbentuk berdasarkan apa yang sejak balita aku terima, dengan seolah-olah jenis kelamin yang satunya lagi boleh dan wajar untuk bertindak apa yang tidak boleh ditindak-tanduki oleh seorang pria. Continue reading

Yang Kita Lakukan

Kadang apa yang kita lakukan tidaklah menjadi masalah bagi orang lain
Kadang yang menjadi masalah bagi orang lain justru karena apa yang kita katakan berbeda dengan apa yang kita lakukan
Inkonsistensi sering menyebabkan mosi tidak percaya, pada akhirnya
Nah, selamat hari Sabtu 🙂

Lelaki Tukang Ngibul

Barusan aku nengok status Fesbuk-nya Kiki. Dia nge-post lagu lawasnya Michael Learns to Rock yang judulnya “25 Minutes”. Yeah, situ orang lawas pastilah tahu ada cerita apa di lagu itu? Yap, yap, yap, ceritanya tentang cowok yang nyesel gara-gara mantan pacarnya keburu dinikahin cowok lain. Beliau yang kasihan itu cuma terlambat 25 menit sahaja untuk bisa menggagalkan peresmian pernikahan si mbak mantan. Continue reading

Teman-teman Hebat

Aku ini suka nggak sadar kalau dikelilingi teman-teman yang hebat. Saking nggak sadarnya, kalau pada suatu hari tiba-tiba aku denger kabar tentang temanku yang mendapat apresiasi dari pihak lain yang kredibel, aku malah jadi mikir, heh, apa iya? Masak tho levelnya si kampret ini sehebat itu? Masak ya pantes gembus bercula ini dapat pujian sedemikiannya?

Sirik? Iri? Dengki? Kayaknya bukan. 3 hal macam barusan itu, kan, cuma bisa terjadi jika dan hanya jika kitanya diam-diam memang mengakui bahwa yang bersangkutan memang punya kemampuan di atas kita tapi kitanya nggak terima. Lha, ini nggak kayak gitu, je. Ini lebih ke murni heran, kok, bisa-bisanya teman nongkrongku ini diperlakukan macam begitu? Apa hebatnya?Perasaanku, beliaunya ini ya biasa-biasa aja. Continue reading

Nggak Enakan

Ternyata aku ini lambat belajar. Setelah jadi manusia selama sekian ratus tahun, yang nggak bisa mati kecuali leherku dipenggal, aku baru sadar belakangan ini kalau ternyata aku punya kelemahan mendasar berupa sifat nggak enakan sama orang, apalagi kalau orangnya berjenis kelamin wanita.

Kadang ini merepotkan. Tapi bukan sejenis repot yang timbul gara-gara ada orang yang minta bantuan (biasanya, sih, bantuan finansial). Untuk jenis kerepotan yang seperti itu aku sendiri suka nggak sadar. Sadarnya kalau pas sudah mau tidur, biasanya. Baru kerasa capeknya. Bantuan sejenis nemenin temen belanja meskipun aku sendiri nggak beli apa-apa, ndengerin curhatannya anak gadis orang, dimintain pendapat untuk urusan yang bersifat metafisik, yang begitu itu – kalau mau dilihat dari kacamata egois – jelas menyita waktuku. Ada banyak hal produktif lainnya yang bisa kukerjakan untuk diriku sendiri seandainya saja aku tega menolak permintaan bantuan yang remeh-temeh itu, misalnya bermalas-malasan. Continue reading