Perkara Dosa

May 29, 2016 – 7:58 pm

Haji Wiwid bilang, aku ini tiada bosannya bergaul (bergumul, kalo istilahnya dia) dengan gadis yang aneh-aneh. Ya mungkin beliau memang bener bahwasanya aku ini seperti itu. Beberapa dari temen-temenku yang cewek, kalo diliat dari kacamata remaja masjid, memang agak sodrun, sih, seperti yang baru terjadi kemarinan ini.

Kemarin aku entah kenapa terjebak obrolan sama Vina (sebut saja demikian. Perkara mau dianggap nama asli atau nama palsu, kali ini sahaya putuskan penilaiannya kepada sidang pembaca yang terhormat sahaja). Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Kusembelih

May 24, 2016 – 10:03 am

Hubunganku sama mbak-mbak mantan pacar pada umumnya sehat-sehat sahaja. Meskipun lebih seringnya adalah beta yang ditinggal nikah duluan, tapi kalau untuk repot-repot sakit hati dan merasa terkhianati, aku seringnya nggak punya waktu untuk itu. Ditinggal pacar itu simpel. Buatku, kalau aku sampai ditinggal gadis, berarti kesalahan ada padaku. Aku yang nggak bisa menjaga kadar kemenarikanku di matanya. Aku juga yang nggak bisa membuatnya yakin kalau aku adalah manusia yang sungguh rugi untuk dilepas begitu sahaja. Jadinya ya kayak ngadu jualan barang. Kalau calon konsumen akhirnya beralih ke produk lain alih-alih produk daganganku, konsumen nggak bisa disalahkan. Akulah yang gagal menjawab ekspektasi pasar.

Dari situ biasanya aku dapat feedback, tentang apa-apa yang harus diperbaiki pada produksi seri berikutnya. Siapa tahu besok konsumen yang kemarin batal beli daganganku akhirnya insyaf, terus kemudian beralih lagi kembali mencicipiku barangku (errr…barangku? Kok kesannya jadi agak gimana ya?). Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Pak Gendut, Orang Tengah, dan Penjajah Ide

May 23, 2016 – 9:17 pm

Pak Gendut sedang dalam gejala stress. Tugas Akhir program magisternya nggak selesai-selesai, sementara di kantornya banyak tenaga – yang menurutnya – handal yang resign karena tawaran gaji dan fasilitas yang lebih menggiurkan dari kantor sebelah. Alhasil kalau biasanya kerjaan dari kantornya bisa di-handle sama Pak Gendut cukup di-remote dari rumah, sekarang beliau harus rajin sowan ke kantor buat nyelesaiin langsung problematika-problematika yang dihadapi perusahaannya. “Semua-mua sekarang jadi tanggungan saya,” keluh Pak Gendut, “tapi ya beginilah resikonya seorang fantasista,” lanjutnya sambil tidak lupa untuk jumawa.

Tentu saja karena adanya seorang kawan yang mau stress, aku dan Yosepin tidak bisa untuk tinggal diam. Melihat betapa menderitanya Pak Gendut yang beberapa hari terakhir ini ketambahan terserang insomnia, tidak bisa tidak, aku sama Yosepin merasa harus ke rumahnya, bertindak, dan ambil bagian. Ambil bagian buat meledeknya, tentu saja. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Nggak Percaya

April 21, 2016 – 8:19 pm

Kita bisa nggak percaya sama sesuatu biasanya karena 2 hal: kita tidak mengalaminya atau kita pernah mencoba buat mengalaminya tapi gagal.

Biasanya, sih, gitu. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Kirain

April 12, 2016 – 10:49 pm

“Lho, kan, dulu aku sudah pernah bilang kalo aku suka kamu, tapi habis itu kamunya nggak ngerespon. Malah jual mahal.”

“Kirain kamu cuma main-main, Mas.”

“Makanya tanya.”

“Lagian kamu, kan, punya pacar, Mas.”

“Kata siapa?”

“Kataku barusan.”

“Sekarang? Sekarang, sih, iya. Waktu itu ya enggak.”

“Habisnya fotomu banyak yang berduaan sama cewek, Mas. Kirain…”

“Makanya tanya.” Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Tidak Mau Tapi Tidak Mau

April 3, 2016 – 10:13 pm

Kalau nggak sedang dalam setelan nyebahi, Septri sebenarnya adalah lawan ngobrol yang asyik. Ditambah pengetahuan serta pengalamannya dalam bidang klenik dan kejawen, Septri seaslinya adalah narasumber yang pas untuk bicara persoalan gho’ib, proyeksi astral, spektrum cahaya, neuroscience, sampai dengan fisika kuantum. Pernah suatu kali dia nunjukin notes berisi coret-coretan tangannya tentang beberapa konsep persamaan kuantum hasil olah-pikirnya sendiri. Tapi ya sayangnya gara-gara rumusan itu dibikin sama Septri, lebih amannya kalau itung-itungan tersebut tidak langsung kita percayai. Lebih sayangnya lagi, Septri ini lebih sering berada dalam mode nyebahi. Untung saja anaknya nrimo kalau diejek-ejek, jadinya kami-kami ini masih sudi menemani. Lumayan…ada bahan ledekan.

Pernah dulu anak-anak membuat sebuah permufakatan jahat kepada Septri yang kala itu masih terhitung sebagai mahasiswa baru di jurusan kami. “Hayo, kamu pilih mana, kita nggak bakal ngeledek kamu lagi tapi kamu kita kucilkan, atau boleh berteman tapi kita jadikan bahan ejekan?” tanya senior-seniornya di kampus. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Delusi Mantan Pacar

March 28, 2016 – 7:35 am

Temenku dari jaman esempe, Ngurah Bikul, pernah berteori. Katanya, selain kampung halamannya, orang biasanya bakal betah sama tempat di mana dia menghabiskan masa remajanya. Maka walaupun belum di-peer review, teori van Bikul tersebut akhirnya menjawab keherananku, kenapa kok ada orang yang bukan asli Jakarta tapi betah sama Jakarta. Rupa-rupanya itu sama saja dengan betahku sama Jokja; mereka berdua adalah mantan pacar yang tidak bisa dilupakan oleh masing-masing kami.

Tapi ada juga manusia yang kadar delusinya akut, menganggap mantan pacarnya masihlah pacarnya yang memang seharusnya seperti itu. Saking memang-seharusnya-seperti-itulah akhirnya semuanya malah jadi biasa-biasa aja, seperti kalo sampeyan sudah jalan lebih dari 2 tahun sama pacar sampeyan. Hari-hari rasanya ya biasa-biasa belaka. Tapi kalo kemudian bubar rasanya bingung, gamang, ada yang hilang. Semprul!
Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Silvi dan Sombong

March 22, 2016 – 8:13 pm

Silvi, temen seangkatanku di kampus dulu tapi beda program studi meskipun 1 jurusan, dalam sebuah kesempatan makan-makan pernah bilang kalau sombong adalah kesan-kesan awalnya terhadapku pas jaman dulu itu. Makanya waktu awal-awal kuliah kami nggak akrab. Sombongku luar biasa, begitu sungutnya, apalagi untuk ukuran pria kecil tapi dengan gestur tubuh yang selalu berjalan dengan kepala sedikit ndangak 😆

(Eh, “ndangak” itu apa, sih, bahasa Indonesia-nya? Ah, ya, “menengadah”) Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


5 Mahasiswi Cantik Ilmu Komputer UGM

March 20, 2016 – 3:12 pm

Kadang buru-buru selesai kuliah bikin daku menyesal juga. Betapa tidak, soalnya perkembangan jaman dan teknologi sekarang ini sering membuat daku berpikir, sentul kenyut, jadi mahasiswa jaman sekarang ternyata enak belaka!

Aku kuliah di era teknologi informasi, dan sekarang ternyata sudah era big data, di mana apa-apa rasanya gampang, segampang jempol neken-neken layar sentuh di hape kita masing-masing. Maka sehubungan dengan kemudahan itu, hal yang paling membuat aku iri adalah gampangnya dapet informasi seputaran gadis manis. Kalau saja jaman dulu itu sudah ada Instagram model sekarang, pastilah hobiku ngecengin mahasiswi cantik bisa lebih terealisasikan dengan optimal. Dulu itu aku harus nyari info kiri-kanan, je… Dari angkringan ke angkringan. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Memetakan Marah

December 13, 2015 – 1:04 pm

“Fear the fury of a patient man.”
Nicholas Mario Wardhana, kandidat Ph.D. dari NTU

Kapan hari kemarin mendadak aku dapat wangsit. Ya, namanya aja manusia linuwih…orang-orang kayak aku ini kadang-kadang memang suka dapat pencerahan di waktu dan dengan cara yang tidak disangka-sangka. Kampretnya si pencerahan ini memang agak nggak tau adat. Malam menjelang libur, seenaknya aja beliau itu hadir tanpa diundang. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Remaja Masa Kini

November 22, 2015 – 10:11 am

Urusan sesuk yo dipikir sesuk.

Si Mbak di Jokja punya kebiasaan: Setiap kali aku pulang ke Jokja, yang biasanya berlangsung kalau weekend aja, sesaat setelah ketawa-tawa beliau mesti habis itu jadi sendu. “Tapi besok kamu sudah balik lagi ke Jakarta ya?” keluhnya sambil bertanya dengan penuh retorika.

Kalau sudah begitu ya yang bisa kulakukan cuma nyengir sahaja. “Urusan besok ya dipikir besok,” demikianlah biasanya jawabanku. “Yang penting lak sekarang aku di depanmu tho?” lanjutku kemudian. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…