Kenapa Tidak Pernah Mengajukan Beasiswa?

Konon, entah makhluk mana yang bilang, aku juga lupa dengernya dari siapa, yang namanya tanggung-jawab orang tua terhadap anaknya itu berlangsung sampai si anak menikah. Ini konon lho ya. Tapi walaupun judulnya konon, konon-kononan yang kayak gini ini ternyata juga bisa jadi perkara. Perkaranya adalah bagaimana kalau si anak jebulnya ndak nikah-nikah? Masak mau sampek tuek si anak tetap saja jadi tanggungan orang tuanya? Anak macam apa itu? Tiada tau diri, bisanya cuma ngerepoti orang tuanya sendiri.

Maka daripada konon-kononan yang kayak di atas itu jadi perkara, kita asumsikan saja hal ini cuma berlaku buat orang tua yang anaknya sudah menikah di usia pertengahan 20-an. Atau kalau ternyata lewat umur 20-an si anak belum juga nikah, kita asumsikan juga si anak pada umur segitu itu sudah kerja, sudah bisa punya duit sendiri, jadi tanggungan orang tua ke si anak cuma berlaku sampai dengan si anak menerima gaji pertamanya. Itu saja. Perkara si anak udah nggak nikah-nikah, nggak kerja pulak, itu sudah lain soal. Nggak perlu kita bahas lagi. Beta menolak membahas persoalan sejenis itu. Itu di luar batasan masalah pada kajian ilmiah kali ini. Continue Reading


Superman dan Pasar Senen

Jaman ndak enak dulu, waktu masih jadi orang susah, tiap kali ke Jakarta aku mesti naik kereta api kelas ekonomi yang turunnya di Stasiun Pasar Senen. Waktu itu aku belum kayak sekarang yang sudah punya kartu Garuda Frequent Flyer kelas emas dari Garuda Indonesia dengan logo Liverpool FC menghiasi permukaannya. Sekarang, sih, aku sudah kaya. Malah saking kayanya, aku sempat tergumun-gumun ketika mengikuti percakapan di grup Whatsapp almamater kuliahku.

Waktu itu ada wacana tentang kenaikan tarif airport tax di beberapa bandara di Endonesa. Malah ada bandara yang bakal membebankan biaya airport tax sebesar 200 rebu rupiah kepada korban-korbannya. Dan hal itu akhirnya jadi bahasan di grup Whatsapp almamaterku itu. Beberapa mengeluhkan tingginya biaya yang harus mereka keluarkan. Continue Reading



Mapan Turu, Nyaman Mlungker

Suatu malam di 7 Eleven dekat UIN Syarif Hidayatullah, aku pernah bilang ke si Bram, “Kalau ditanya aku pengen hidup yang seperti apa, sederhana. Aku cuma pengen balik macam dulu lagi, waktu masih di Jokja, waktu masih bisa cekakak’an atau main PES sampai pagi, tanpa harus mikir besok masih harus masuk kantor jam setengah 8 pagi. Duit yang masuk rekening memang seadanya, mungkin cuma setengah lebih dikit dari yang sekarang, tapi bebas dari kekhawatiran rutin menjelang pagi.”

Iya, sekarang ini aku jadi detektif di Jakarta. Bukan tanpa alasan aku ada di sini. Kadang dalam hidup kita memang ada hal-hal yang harus kita kompromikan dengan keinginan mereka yang (ngakunya dan seharusnya) kita sayangi dan hormati. Sedikit mengalah, meski agak tak nyaman, kadang memang nyaris tidak mampu ditolak untuk dilakukan (nantilah kapan-kapan kuceritakan kronologisnya). Maka begitulah, di Jakarta-lah beta. Continue Reading


Tidak Peduli Atau Iri Atau Saykoji?

Suatu waktu 2 tahun lalu, Pak Bos di kantor, yang detektif kelas kakap itu, pernah bilang ke aku waktu aku baru jadi kadet di kantorku yang sekarang ini. Waktu itu dia bilang, “Saya nggak minta banyak-banyak. Saya cuma minta kamu mikir dikit. Dikit aja. Cuma dikit. Kalau kamu bisa, dan semua orang juga seperti kamu, cukup mikir dikit aja, nggak usah banyak-banyak, negara ini pasti maju.”

Waktu itu batinku, wah, hebat juga Pak Bos ini. Ahli nujum pulak nampaknya dia. Tau dari mana dia kalo kemampuanku ini setara dengan 100 orang commoners? Kok, bisa-bisanya dia tau kalo aku ini selevel dengan Hercule Poirot, yang tanpa beranjak dari tempatnya bersantai kasus di luaran sana bisa terpecahkan dengan gemilangnya? Continue Reading


Jangan Sombong

“Jangan Sombong!”

Sering dapat gerundelan macam begitu? Aku sering. Penyebabnya, sih, bisa bermacam-macam. Bisa jadi karena akunya memang sombong, tapi bisa jadi pula karena hal macam berikut ini: Continue Reading


RoboCop 2014

RoboCop

Aku nonton film ini sudah sejak kapan minggu yang lalu sama Novi. Berdua? Tentu tidak. Di dalam gedung bioskopnya ya jelas rame-rame sama penonton lainnya. Tapi berhubung penonton lainnya nggak punya andil mbayarin popcorn-ku, baiklah, nama mereka tiada usahlah kusebut sahaja. Cukuplah hanya kusebut namanya Novi, karena selain popcorn, tiket bioskopku juga dibayarin sama dia. Continue Reading


Resman dan Jilbab dan Argumen Demi Argumen

Ngobrol tentang SMA Negeri 2 Denpasar also known as Resman (Re-nya berasal dari tangga nada re yang berarti tangga nada kedua) ada 3 hal yang paling kuingat tentang sekolahan itu. Yang pertama adalah waktu jaman esempe. Resman pernah jadi tuan rumah untuk lomba karikatur tingkat provinsi, dan untuk pertama kalinya juga aku bisa mengalahkan rival abadiku, si Christian, dalam urusan lomba gambar-menggambar.

Waktu itu dia jadi juara kedua dan aku…oho, tentu saja, situ pasti juga tau peringkat apa, sih, yang ada di atasnya peringkat kedua? 😈 Secara teknis, sampai sekarang masih tetap kuakui, Christian ada di atasku. Jauh. Jauh sekali. Sejak jaman teka aku selalu jadi pecundang kalo ngadu hasil gambar tangan sama dia. Tapi waktu lomba karikatur itu, namanya aja lomba karikatur, imajinasiku yang lebih liar, nakal, brutal berhasil mengkover kelemahan teknisku itu. Mwahahaha… Continue Reading



Tentang Pasangan Hidup

1 hal yang lumayan menyebalkan kalau pulang kampung dan ketemu sodara-sodara adalah pertanyaan, “Kapan giliranmu (nikah)? Nunggu apa lagi? Kerjaan (tetap) sudah ada, rumah ada, tabungan punya, opo meneh sing mbok goleki?”

Ditambah nasehat nyerempet agama, semacam jangan khawatir kalau belum yakin bisa menafkahi anak orang, pasangan menikah itu pasti ada rezekinya, kadang-kadang bikin aku, errr…apa ya? Sebel sih nggak. Mungkin ini lebih ke arah jenuh aja. Mau menjawab jujur, ya namanya aja ngobrol sama orang-orang tua, akunya takut dicap sombong. Continue Reading


Kewajiban Azasi Manusia

2 minggu yang lalu, saat mau sarapan sehabis menaruh tas di kubikelku, aku dipanggil sebuah orang dari arah belakangku. “Mas, mau ke mana? Sarapan? Gua ikut!”

Aku menoleh, menjawab dengan isyarat gerakan kepala yang kurang-lebih artinya adalah “come on”. Dan, orang yang memanggilku itu – sebut saja – Bobong Syaifullah, anak kuliahan yang lagi magang di kantorku, sebiji biro jasa detektif negeri sipil. Continue Reading



SEO Powered By SEOPressor