Mapan Turu, Nyaman Mlungker

Suatu malam di 7 Eleven dekat UIN Syarif Hidayatullah, aku pernah bilang ke si Bram, “Kalau ditanya aku pengen hidup yang seperti apa, sederhana. Aku cuma pengen balik macam dulu lagi, waktu masih di Jokja, waktu masih bisa cekakak’an atau main PES sampai pagi, tanpa harus mikir besok masih harus masuk kantor jam setengah 8 pagi. Duit yang masuk rekening memang seadanya, mungkin cuma setengah lebih dikit dari yang sekarang, tapi bebas dari kekhawatiran rutin menjelang pagi.”

Iya, sekarang ini aku jadi detektif di Jakarta. Bukan tanpa alasan aku ada di sini. Kadang dalam hidup kita memang ada hal-hal yang harus kita kompromikan dengan keinginan mereka yang (ngakunya dan seharusnya) kita sayangi dan hormati. Sedikit mengalah, meski agak tak nyaman, kadang memang nyaris tidak mampu ditolak untuk dilakukan (nantilah kapan-kapan kuceritakan kronologisnya). Maka begitulah, di Jakarta-lah beta. Continue Reading


Tidak Peduli Atau Iri Atau Saykoji?

Suatu waktu 2 tahun lalu, Pak Bos di kantor, yang detektif kelas kakap itu, pernah bilang ke aku waktu aku baru jadi kadet di kantorku yang sekarang ini. Waktu itu dia bilang, “Saya nggak minta banyak-banyak. Saya cuma minta kamu mikir dikit. Dikit aja. Cuma dikit. Kalau kamu bisa, dan semua orang juga seperti kamu, cukup mikir dikit aja, nggak usah banyak-banyak, negara ini pasti maju.”

Waktu itu batinku, wah, hebat juga Pak Bos ini. Ahli nujum pulak nampaknya dia. Tau dari mana dia kalo kemampuanku ini setara dengan 100 orang commoners? Kok, bisa-bisanya dia tau kalo aku ini selevel dengan Hercule Poirot, yang tanpa beranjak dari tempatnya bersantai kasus di luaran sana bisa terpecahkan dengan gemilangnya? Continue Reading


Jangan Sombong

“Jangan Sombong!”

Sering dapat gerundelan macam begitu? Aku sering. Penyebabnya, sih, bisa bermacam-macam. Bisa jadi karena akunya memang sombong, tapi bisa jadi pula karena hal macam berikut ini: Continue Reading


RoboCop 2014

RoboCop

Aku nonton film ini sudah sejak kapan minggu yang lalu sama Novi. Berdua? Tentu tidak. Di dalam gedung bioskopnya ya jelas rame-rame sama penonton lainnya. Tapi berhubung penonton lainnya nggak punya andil mbayarin popcorn-ku, baiklah, nama mereka tiada usahlah kusebut sahaja. Cukuplah hanya kusebut namanya Novi, karena selain popcorn, tiket bioskopku juga dibayarin sama dia. Continue Reading


Resman dan Jilbab dan Argumen Demi Argumen

Ngobrol tentang SMA Negeri 2 Denpasar also known as Resman (Re-nya berasal dari tangga nada re yang berarti tangga nada kedua) ada 3 hal yang paling kuingat tentang sekolahan itu. Yang pertama adalah waktu jaman esempe. Resman pernah jadi tuan rumah untuk lomba karikatur tingkat provinsi, dan untuk pertama kalinya juga aku bisa mengalahkan rival abadiku, si Christian, dalam urusan lomba gambar-menggambar.

Waktu itu dia jadi juara kedua dan aku…oho, tentu saja, situ pasti juga tau peringkat apa, sih, yang ada di atasnya peringkat kedua? ๐Ÿ˜ˆ Secara teknis, sampai sekarang masih tetap kuakui, Christian ada di atasku. Jauh. Jauh sekali. Sejak jaman teka aku selalu jadi pecundang kalo ngadu hasil gambar tangan sama dia. Tapi waktu lomba karikatur itu, namanya aja lomba karikatur, imajinasiku yang lebih liar, nakal, brutal berhasil mengkover kelemahan teknisku itu. Mwahahaha… Continue Reading



Tentang Pasangan Hidup

1 hal yang lumayan menyebalkan kalau pulang kampung dan ketemu sodara-sodara adalah pertanyaan, “Kapan giliranmu (nikah)? Nunggu apa lagi? Kerjaan (tetap) sudah ada, rumah ada, tabungan punya, opo meneh sing mbok goleki?”

Ditambah nasehat nyerempet agama, semacam jangan khawatir kalau belum yakin bisa menafkahi anak orang, pasangan menikah itu pasti ada rezekinya, kadang-kadang bikin aku, errr…apa ya? Sebel sih nggak. Mungkin ini lebih ke arah jenuh aja. Mau menjawab jujur, ya namanya aja ngobrol sama orang-orang tua, akunya takut dicap sombong. Continue Reading


Kewajiban Azasi Manusia

2 minggu yang lalu, saat mau sarapan sehabis menaruh tas di kubikelku, aku dipanggil sebuah orang dari arah belakangku. “Mas, mau ke mana? Sarapan? Gua ikut!”

Aku menoleh, menjawab dengan isyarat gerakan kepala yang kurang-lebih artinya adalah “come on”. Dan, orang yang memanggilku itu – sebut saja – Bobong Syaifullah, anak kuliahan yang lagi magang di kantorku, sebiji biro jasa detektif negeri sipil. Continue Reading


Tahun Baru Pake Kaos Baru, Dong! Horeee…

Hello, amigo, desperado, selamat tahun baru semuanya!

Maka dalam rangka memasuki tahun 2014 ini, Mas Joe nan tampan alias aku sendiri bertekad berbagi hadiah tahun baru. Karena apa? Karena aku ini memang baik hati.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa aku punya toko kaos di BukaLapak.com, maka dengan ini aku umumkan kalau hadiahnya adalah kaos. 3 biji. Yak, sekali lagi, kaos sejumlah 3 biji! Horeee… Continue Reading


Oom Gita Wirjawan dan Iklan-iklannya

Suka Fesbuk-an? Peke hape atau pake komputer? Kalo pake komputer, pernah merhatiin panel di pojok kanan atas halaman Fesbuk sampeyan? Okelah, sebelum sampeyan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, kayaknya ada baiknya kalo aku yang duluan njawab pertanyaan-pertanyaan itu, daripada nanti aku dituduh sebagai makhluk yang pengen tau urusan makhluk lain tanpa mau memberi contoh dan teladan terlebih dahulu.

Jadi begini, aku memang lumayan suka Fesbukan. Buatku Fesbuk itu media sosial yang paling mengakomodir kepentingan sosialku di dunia maya ketimbang Tuiter atau – yang lagi hobi dipake sama temen-temenku – Peth. Alasannya simpel. Di Tuiter aku nggak bisa berdiskusi dengan enak, tidak ada fitur buat urun komen di bawah apdetan status yang kutulis atau juga ditulis sejawat-sejawatku. Aku harus sedikit begini sedikit begitu kalo kepengen tau sejarah percakapan temen-temenku itu. Pendek kata: repot! Continue Reading