Menyiasati Hambatan Kuliah di Luar Negeri (Studi Kasus: Si Tampan Mas Joe)

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joesatch (@masditto) on

Setiap ketemu teman lama yang tahu gelar akademis terakhirku, aku pasti ditanya bagaimana rasanya kuliah di level Woxbridge (oh yeah, tentu sahaja boleh jadi ini cuma guyonan. Ada yang bilang bahwa, kami maksa mensejajarkan diri dengan Oxford dan Cambridge padahal kami-kami ini gagal buat masuk ke sana. Bahasa gampangnya, kampus buanganlah)? Jadi daripada aku terus-terusan ngulang cerita yang sama, kupikir ada baiknya kalau aku nulis saja di sini, supaya besok-besok kalau ada yang nanya lagi, biar orangnya langsung kusuruh baca tulisan di blogku ini sahaja. Continue reading

Surat Tidak Terlalu Terbuka kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia tentang Putusan Penetapan Harta Warisan

Kepada Yth.
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Jl. Medan Merdeka Utara No. 9-13.
Jakarta Pusat – DKI Jakarta
Indonesia 10110

Dengan hormat,

Sehubungan dengan Penetapan Nomor 0053/Pdt.P/2013/PA.Dps dalam perkara penetapan ahli waris, saya, Anindito Baskoro Satrianto, anak bujang yang namanya terdapat dalam Penetapan tersebut menyatakan keheranan sekaligus keberatan saya dengan cara Mahkamah Agung Republik Indonesia menangani data-data – terutama yang berhubungan dengan kehidupan personal saya – pada platform web 2.0. Continue reading

Berhenti di 29

Saban kenalan sama orang baru, terutama cewek-cewek, setiap obrolan kami berlanjut ke urusan umur, biasanya aku selalu bilang kalau umurku 29. Aku nggak bohong. Usia adalah penanda lamanya hidup seseorang. Jadi apa salahnya kalau sampai sekarang aku selalu bilang kalau umurku itu 29, oleh sebab-musabab hidupku memang berhenti di umur 29?

Cuma…ya begitulah. Orang sering menasbihkanku sebagai orang yang ngawur. Banyak, sih, yang awalnya memang percaya kalau umurku 29, meskipun setelah ngintip SIM dan katepeku kepercayaan itu pudar kemudian. Tapi tetap saja, aku nggak bohong. Setidaknya secara filosofis umurku memang berhenti di 29. Continue reading

Worst Case Scenario

Syahdan, pada zaman tidak terlalu dahulu kala, aku dan mamakku sedang berencana hadir di acara pertemuan trah di Solo besok harinya. Pagi-pagi kami berangkat ke bandara naik taksi dari rumah kontrakanku di Ciputat untuk menuju Bandara Halim Perdanakusuma.

Setelah membelok ke kiri dari lampu merah Pondok Pinang, masuklah taksi kami ke jalan tol. Prediksiku, sih, dengan berangkat jam segitu, pagi-pagi di hari libur, kami nggak akan terjebak macet yang membuat kami terlambat masuk pesawat. Tapi mak jegagig! Begitu selesai ngetap kartu di gerbang tol nampaklah iring-iringan macet di depan. Mamak kontan panik! Continue reading

Hidup Adalah Prek-juangan

“Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.”
Ian Maclaren

Aku ini orangnya memang suka cari gara-gara. Sudah banyak jenis gara-gara yang aku lakukan, terutama kalau aku sedang tidak setuju sama sesuatu. Misalnya saja sekarang ini, dengan sombong sekali kukatakan bahwa quote di atas – yang sering disalah-perkiraankan sebagai quote dari Plato ataupun Philo dari Alexandria – kupikir perlu dikaji ulang. Pertama, definisikan “hard” itu sendiri, dan kedua, yang disebut sebagai “hard” itu sebenarnya seberapa hard, sih?

Pada 1 sisi, benar bahwa, hard itu relatif. Soal yang sangat mudah buat beta – misalnya fisika, kimia, atau matematika – bisa jadi menjadi momok buat pelajar-pelajar lainnya. Yaaa…namanya aja manusia, bakatnya beda-beda. Maka jelas, hard ini memang sangat relatif. Continue reading