Don’t Judge Me Blablablablabla

Kalau beberapa temanku mood-nya lagi jelek, kadang aku suka ngeliat apdetan status mereka di social media-nya mengunggah meme atau quote soal betapa mereka nggak suka dihakimi sama orang lain. Mangkel, nesu, mutung karena dinilai salah sama orang lain. Penilaian ini tentu saja termasuk perkara subyektif, ya namanya aja juga manusia. Hanya saja, soal nggak mau dinilai salah sama orang lain pun adalah hal yang sama subyektifnya. Pada masanya, nanti ketika tidak bisa mencapai mufakat, masing-masing pihak akan memendam kekesalan terhadap pihak lainnya. Si A nggak suka sama si B karena si B sudah berbuat salah, si B nggak suka sama si A karena si A sudah menilainya berbuat keliru. Mbulet melulu di situ. Continue Reading


Ilusi Negara Islam: 2 Jenis Manusia yang Perlu Membacanya

Fesbuk ini makin lama makin menjengkelkan. Betapa tidak, timeline-ku penuh dengan share-share-an berita geblek yang nyinggung kebencian antar golongan. Awalnya, sih, lucu. Aku suka geli sendiri ngeliat banyaknya orang bahlul di Endonesa ini, mulai soal demo-demoan November dan awal Desember kemarin, sampai gosip soal air mineral cap Equil, boikot Sari Roti, dan Metro TV. Hanya saja segala yang berlebihan itu memang nggak baik. Lama-kelamaan jadilah aku eneg sendiri.

Seorang sejawat yang lagi kuliah di Leicester bahkan mengingatkanku soal keeneganku. Katanya, “Jangan terlalu dipikirin, Mas Joe. Nyabun dulu aja.”

Semprul! Continue Reading


Tukang Debat

“Follow the path of the unsafe, independent thinker. Expose your ideas to the dangers of controversy. Speak your mind and fear less the label of ’crack-pot’ than the stigma of conformity. And on issues that seem important to you, stand up and be counted at any cost.”

– Thomas J. Watson

Continue Reading


Aku Cuma Nggak Mau Kamu Ikut-ikutan Gobloknya Awkarin

“Kayaknya lebih baik kamu nggak usah kenal aku terlalu dekat, deh, Joe.”

“Lha, kenapa?” tanyaku.

“Dunia kita beda. Kamu orang baik, aku…aku ya kayak yang kamu lihat gini.”

“Gini gimana?” lanjutku sambil mesem.

“Nggak usah pura-pura bego, deh.”

“Ah, nggak ada gunanya juga. Aku pura-pura pun kamu juga tetap tahu kalau aku ini aslinya pinter,” elakku. Continue Reading


Imagine There’s No Stomach

bramantyo erlangga, hacker ompong, bukan penggemar john lennon

Akibat terlalu sibuk kuliah, aku baru tahu kalo tanggal 16 November kemarin ternyata diperingati sebagai International Day for Tolerance. Yang beginian memang seringnya suka luput dari pengamatanku. Hal ini tentu saja ada sebab-musababnya. Yang pertama, karena Sherlock Holmes ternyata tidak tahu mana yang benar antara geosentris dan heliosentris. Katanya, yang kayak gituan nggak ada mangpa’atnya, nggak banyak membantunya dalam memecahkan suatu perkara. Jadi ta’amini saja pendapat idolaku itu: Apa gunanya memahami sesuatu yang nggak jelas tujuan dan paedahnya dalam hidup kita? Continue Reading



Kenapa Aku Mengejarmu?

Kamu tidak suka dikejar-kejar, katamu. Problemnya, tidakkah aku tahu tentang perkara itu? Sebaliknya, aku justru sangat paham. Perempuan itu tidak nyaman dengan laki-laki yang mengejarnya macam ayam. Tentu saja aku tahu. Sangat tahu. Aku gitu. Makanya aku mengejarmu. Continue Reading


Kerennya Jadi Agnostik

Sekitar semingguan kemarin aku nongkrong di warung kopi buat ngobrol ngalor-ngidul sebagaimana umumnya obrolan warung kopi; tidak ada topik khusus, selain topik seputar mempertahankan kewarasan di tengah hingar-bingarnya dunia. Iya, warung tempatku nongkrong ini entah kenapa jadi tempat ngumpulnya oknum-oknum yang mati-matian berusaha untuk tidak terjebak dalam sesat-pikir ketika dihadapkan sama isu-isu ngepop di Endonesa. Aku sendiri menyebut kalau tempat ini adalah tempat yang bisa menjagaku tetap bertahan dengan idealismeku walaupun di dunia nyata batasan untuk bertindak ideal nyata-nyata semakin kabur.

Kemarin itu, entah bagaimana mulanya, yang jelas ketika aku datang, aku sudah disuguhi topik yang sebenarnya sudah lama membuatku geli tapi nggak pernah kutulis di blogku ini: tentang agnostisisme ala (orang geblek) Endonesa 😆 Continue Reading


Hai, Anggi

Jaman kuliah sarjana dulu aku punya temen cewek namanya Anggi. Anaknya pinter (setidaknya lebih pinter ketimbang kuartet Yosepin, Yanto Ucup, Saber, dan Bongkre yang lulusnya injury time), nilai mata kuliahnya nyaris A semua (IPK totalnya nggak perlulah ta’sebut karena khawatir menyinggung SARIP: Suku, Agama, Ras, dan Indeks Prestasi), padahal – menurut pengakuan yang bersangkutan sendiri – kerjanya cuma main game online. Mbuh waktu kecil beliau ini dipakani apa sama orangtuanya. Mungkin dedak sama kroto. Nggak mungkin nasi. Lha, wong buktinya aku dan 4 karakter di atas yang makannya nasi nyata-nyata kalah pinter dari dia, meskipun kami juga sudah njajal mencontoh pola hidupnya. Ikutan rajin main game online, misalnya. Continue Reading


Sombong dan Dilema dan Paradoks

Semalem aku nggak bisa tidur. Entah kenapa, mungkin gara-gara kebanyakan ngopi. Saking nggak bisa tidur itulah pikiranku malah jadi ke mana-mana sendiri (karena aku geletakan di kasurnya sendiri jadi ya mikirnya juga sendiri. Coba berdua sama gadis manis, boleh jadi aku malah nggak pake mikir lagi. Mungkin langsung hajar bleh sahaja). Beberapa hal yang sudah lewat kemarin-kemarin mendadak malah mampir. Untunglah nggak ada problem bin masalah berat, kecuali yang kubuat sendiri jadi sok berat seperti yang berikut ini: Continue Reading


Pages:1234567...40