Remaja Masa Kini

Urusan sesuk yo dipikir sesuk.

Si Mbak di Jokja punya kebiasaan: Setiap kali aku pulang ke Jokja, yang biasanya berlangsung kalau weekend aja, sesaat setelah ketawa-tawa beliau mesti habis itu jadi sendu. “Tapi besok kamu sudah balik lagi ke Jakarta ya?” keluhnya sambil bertanya dengan penuh retorika.

Kalau sudah begitu ya yang bisa kulakukan cuma nyengir sahaja. “Urusan besok ya dipikir besok,” demikianlah biasanya jawabanku. “Yang penting lak sekarang aku di depanmu tho?” lanjutku kemudian. Continue Reading


Bird’s-eye View

Coba, deh, kalau ada pertandingan bal-balan, siapa yang lebih jago dalam menilai dan mengamati jalannya pertandingan? Siapa hayo? Pemainnya atau komentatornya?

Aku setuju kalau sampeyan bilang bahwa komentator itu bisanya omong thok, nggak jago main bola tapi sudah berani ngritik permainannya pemain bola beneran yang sedang berjibaku di lapangan. “Coba dulu sana kamu yang main, jangan asal ngasih komentar!” begitu biasanya sungut kebanyakan dari kita. Iya, kan? Iya aja, deh. Continue Reading


Ikhlas

Nek aku ra ngomong nek aku ikhlas, piye carane kowe-kowe ngerti nek aku ikhlas?

Konon diomongkan oleh si Ceper. Lengkapnya Ceperus Snape, manusia paling…paling…paling…paling apa ya? Paling sompret yang pernah kutemui di kampusku, dah! Alhamdulillah orangnya sampai sekarang belum wisuda-wisuda juga.

Terjemahannya kira-kira begini: Kalau aku nggak ngomong kalau aku ikhlas, gimana caranya kalian tau kalau aku ikhlas? Continue Reading



Ancaman Rasionalitas di Balik Pertanyaan “Kapan Kawin?”

Pertama-tama walaupun Lebaran sudah lewat semingguan, izinkanlah beta mengucapkan mohon maaf lahir dan batin karena beta sendiri barulah mulai cuti hari ini buat mudik ke kampung. Maka karena apa, sih, esensi dari Lebaran di Endonesa selain mudik ke kampung, ya beta pikir tiada mengapa jikalau beta baru minta maafnya hari ini. Iya tho? Iya kan? Mbok wis iya aja, deh.

Dan sebagaimana biasanya ritual tahunan di kampung, pertanyaan yang paling sering jadi pembahasan di media-media sosial seputar Lebaran adalah pertanyaan “kapan kawin?”. Maka daripada itu, mumpung masih di jalan, mumpung belum nyampe ke kampung, aku mau cerita seputar problem kawin-kawinan. Continue Reading


Benci Itu Ya Benci

Suatu kapan malam kemarin, sambil nunggu sahur, Josephine pernah bilang kalau sabar itu aslinya nggak ada batasnya. Iya, sabar sebagai sebuah kata sifat memang nggak ada batasnya. Batas itu jadi kelihatan ketika sampai pada level implementasi dari manusianya. Misalnya, level sabarku, level sabarnya Pak Gendut, atau level sabarnya Saripah ternyata bisa berbeda-beda ketika menghadapi kasus yang sama. Jadi jelas, sabar itu bisa kelihatan serba terbatas ya ketika sudah diterapkan sama manusianya.

Begitu juga dengan benci. Continue Reading


Menghadapi Jejakmu

Perkara hapus-hapusan jejak, pada dasarnya hal ini harusnya bisa dimaklumi. Memang ada beberapa orang yang berani menghadapi masa lalunya dengan gagah, sementara beberapa manusia yang lainnya justru pengen menguburnya, menghilangkan jejaknya. Membuka lembaran baru, kayaknya itu istilahnya. Continue Reading



Nyanyian Kode

Bicara tentang kode-mengkode, harusnya, sih, hal macam begituan itu sudah jadi kerjaanku sehari-hari. Sudah sejak lebih dari 10 tahun yang lalu aku didapuk sebagai manusia yang kudu paham masalah kode-kodean. Namanya saja sarjana komputer, alangkah malunya kalau aku ternyata tidak bisa merangkai kode. Jadi jelas sudah, seharusnya kode adalah bagian dari hidupku.

Tapi namanya saja hidup…kadang ada sahaja hal-hal yang berjalan dengan tidak sesuai dari yang seharusnya, misalnya ya masalah kode-kodean ini. Aku dan beberapa temanku yang seharusnya fasih sekali dalam urusan beginian seringnya malah mati-matian menghindari perkara jenis yang 1 ini. Continue Reading


Semesta Tanpa Tuhan

Perihal cap sebagai tukang cari gara-gara yang dialamatkan sama sejawat-sejawatku ke aku, aku sudah memakluminya. Soalnya mungkin ya memang begitulah kerjaanku. Ta’akui kalo aku ini suka iseng. Kadang aku sengaja mencari respon yang kontra dengan pendapat lawan bicaraku ya cuma gara-gara hal itu: iseng. Saking isengnya, beberapa oknum akhirnya tidak tahan untuk mengungkapkannya kejengkelannya langsung dihadapanku. Tapi celaka, walaupun mereka sudah mangkel-mangkel seprapat mati, aku biasanya malah jadi tambah ngekek-ngekek tanpa merasa berdosa sedikit pun jua. Continue Reading


AC Milan, Internazionale, dan Quraish Shihab

Seandainya saja ente adalah seorang milanisti, akan sangat mudah dimaklumi kenapa ente membenci Internazionale dan menganggap interisti adalah orang-orang yang tersesat. Begitu pula sebaliknya. Aku aja bisa paham apalagi Anda semua, duhai pembaca nan budiman. Tingkat kefanatikan seseorang terhadap golongannya jika sudah mencapai taraf ekstrim seringnya memang tidak nalar. Apapun yang dilakukan pihak seberang akan dianggapnya sebagai sebuah kebejatan. Jika pun mereka yang di seberang itu aslinya tidaklah sebejat cap yang mereka berikan, mereka akan bersikeras, pihak seberang kebetulan sedang berpura-pura tidak bejat sahaja. Continue Reading


Pages:12345678...41