Browsing posts in: Ngopi Neeh

Semesta Tanpa Tuhan

Perihal cap sebagai tukang cari gara-gara yang dialamatkan sama sejawat-sejawatku ke aku, aku sudah memakluminya. Soalnya mungkin ya memang begitulah kerjaanku. Ta’akui kalo aku ini suka iseng. Kadang aku sengaja mencari respon yang kontra dengan pendapat lawan bicaraku ya cuma gara-gara hal itu: iseng. Saking isengnya, beberapa oknum akhirnya tidak tahan untuk mengungkapkannya kejengkelannya langsung dihadapanku. Tapi celaka, walaupun mereka sudah mangkel-mangkel seprapat mati, aku biasanya malah jadi tambah ngekek-ngekek tanpa merasa berdosa sedikit pun jua. Continue Reading


Oh, Pacarku Sayang

Gara-gara ulah si Diwan Sastro di kantor yang memperkenalkan reputasiku dulu sebagai Don Juan MIPA Selatan, sekarang anak-anak baru di kantorku pada rajin ngangsu kaweruh ke aku seputar dunia percintaan. Perihal sudah kuklarifikasi bahwasanya Diwan kampret itu sedang ngibul, mereka nggak mau tahu. Bahkan ada pula yang sempat-sempatnya ngecek akun Fesbuk atau Instagram-ku demi melihat akun-akun cewek di situ yang terdaftar sebagai temanku, untuk kemudian di-list yang cantik-cantik terus minta dikenalin.

“Kamu mau dikenalin sama yang ini, Tot?” tanyaku ke Gatot yang disambut dengan anggukan kepalanya. “Mau? Mau ta’slantap?” lanjutku kemudian. “Yang ini pacarku, gembus!” makiku pada akhirnya. Demikianlah salah 1 contoh responku terhadap permintaan dari seorang klienku. Continue Reading


Kamu Itu Beruntung

“Saya cuma beruntung, kok.”

Biasanya waktu aku ngobrol, dan aku memuji kehebatan lawan bicaraku gara-gara prestasi yang baru aja dia buat, lalu dia mengucapkan kalimat macam di atas, respekku terhadap beliau normalnya jadi naik. Betapa tidak, soalnya ucapan seperti itu akan membuatku menilai bahwa lawan ngomongku itu adalah seorang yang rendah hati. Bahkan kalau orang yang kuajak bicara itu sudah lebih dulu kukenal sebagai orang yang jujur bin tidak pecicilan, aku malah akan menilainya sebagai orang yang rendah hati sehati-hatinya. Continue Reading


Kepanikan dan Nalar Kekalahan

Di hape Android-ku aku masang aplikasi Wasap. Di aplikasi Wasap-ku itu aku tergabung dengan sebuah grup yang betul-betul bahengan (baca: bajingan, su!). Saking bahengannya, suatu waktu di Eat & Eat, Gandaria City, Aswin, seorang analis resiko dari bank plat merah negeri ini, pernah bersabda, “Wong nek atine ora jembar ora bakal iso bertahan neng grupe awak’e dewe,” yang terjemahan nyaris-bebasnya kira-kira begini: “Orang yang tidak lapang dada tiadalah mungkin bertahan di grup kita.”

Tapi pancen itu memang…memang demikianlah keadaannya. Orang-orang di grup Wasap tersebut tercatat sudah sering membuat homo sapiens di grup Wasap lain yang juga dihuninya memilih left group lantaran tidak tahan dengan ketajaman budi-bahasanya. Kadang memang beberapa oknum dalam grup Wasap kami tersebut suka lupa keadaan bahwasanya mereka sedang tidak ngobrol dengan sesama kami. Mereka lupa bahwa tidak semua orang punya hati baja macam manusia di grup kami. Maka ketika kebiasaan di grup Wasap kami kebawa ke grup Wasap lainnya, ketika ada anggota yang kemudian memilih ciao, hal itu bisa menjadi sebuah perkara yang layak dimaklumi. Continue Reading


Dolly yang Bukan Temanku

Di udik dulu aku pernah punya teman, teman sepermainan. Namanya Dolly. Tapi walaupun namanya “Dolly”, sungguh mati, anak ini jenis kelaminnya cowok. Apa boleh buat…waktu itu aku ini masih jadi pria pemalu. Aku jarang main cewek, aeh…main sama cewek, soalnya aku takut diejek-ejek, “Pacaran…pacaran…” Maka oleh sebab itulah teman mainku jaman esde sampai esempe itu kebanyakan berjenis kelamin cowok. Dolly ini adalah salah satunya.

Dolly ini rumahnya cuma beda gang sama rumahku. Tapi ini bukan cerita tentang Dolly yang temanku itu. Continue Reading


Superman dan Pasar Senen

Jaman ndak enak dulu, waktu masih jadi orang susah, tiap kali ke Jakarta aku mesti naik kereta api kelas ekonomi yang turunnya di Stasiun Pasar Senen. Waktu itu aku belum kayak sekarang yang sudah punya kartu Garuda Frequent Flyer kelas emas dari Garuda Indonesia dengan logo Liverpool FC menghiasi permukaannya. Sekarang, sih, aku sudah kaya. Malah saking kayanya, aku sempat tergumun-gumun ketika mengikuti percakapan di grup Whatsapp almamater kuliahku.

Waktu itu ada wacana tentang kenaikan tarif airport tax di beberapa bandara di Endonesa. Malah ada bandara yang bakal membebankan biaya airport tax sebesar 200 rebu rupiah kepada korban-korbannya. Dan hal itu akhirnya jadi bahasan di grup Whatsapp almamaterku itu. Beberapa mengeluhkan tingginya biaya yang harus mereka keluarkan. Continue Reading


Mapan Turu, Nyaman Mlungker

Suatu malam di 7 Eleven dekat UIN Syarif Hidayatullah, aku pernah bilang ke si Bram, “Kalau ditanya aku pengen hidup yang seperti apa, sederhana. Aku cuma pengen balik macam dulu lagi, waktu masih di Jokja, waktu masih bisa cekakak’an atau main PES sampai pagi, tanpa harus mikir besok masih harus masuk kantor jam setengah 8 pagi. Duit yang masuk rekening memang seadanya, mungkin cuma setengah lebih dikit dari yang sekarang, tapi bebas dari kekhawatiran rutin menjelang pagi.”

Iya, sekarang ini aku jadi detektif di Jakarta. Bukan tanpa alasan aku ada di sini. Kadang dalam hidup kita memang ada hal-hal yang harus kita kompromikan dengan keinginan mereka yang (ngakunya dan seharusnya) kita sayangi dan hormati. Sedikit mengalah, meski agak tak nyaman, kadang memang nyaris tidak mampu ditolak untuk dilakukan (nantilah kapan-kapan kuceritakan kronologisnya). Maka begitulah, di Jakarta-lah beta. Continue Reading


Resman dan Jilbab dan Argumen Demi Argumen

Ngobrol tentang SMA Negeri 2 Denpasar also known as Resman (Re-nya berasal dari tangga nada re yang berarti tangga nada kedua) ada 3 hal yang paling kuingat tentang sekolahan itu. Yang pertama adalah waktu jaman esempe. Resman pernah jadi tuan rumah untuk lomba karikatur tingkat provinsi, dan untuk pertama kalinya juga aku bisa mengalahkan rival abadiku, si Christian, dalam urusan lomba gambar-menggambar.

Waktu itu dia jadi juara kedua dan aku…oho, tentu saja, situ pasti juga tau peringkat apa, sih, yang ada di atasnya peringkat kedua? 😈 Secara teknis, sampai sekarang masih tetap kuakui, Christian ada di atasku. Jauh. Jauh sekali. Sejak jaman teka aku selalu jadi pecundang kalo ngadu hasil gambar tangan sama dia. Tapi waktu lomba karikatur itu, namanya aja lomba karikatur, imajinasiku yang lebih liar, nakal, brutal berhasil mengkover kelemahan teknisku itu. Mwahahaha… Continue Reading


Garuda Muda dan Emprit Tua

Salah satu keuntungan jadi orang baik itu adalah dikelilingi dengan orang-orang baik juga. Misalnya saja kemarin ini, dengan selamat sentausa akhirnya aku ketiban rejeki buat nonton partainya tim nasional Endonesa U-19 lawan Korea Selatan langsung di Gelora Bung Karno, Senayan.

Ceritanya sehabis partai lawan Filipina yang kutonton di depan tivi itu, aku Whatsapp-an sama si Bram, perjaka butut yang sejak putus sama ceweknya lebih dari separo dekade yang lalu sampai sekarang belum juga punya partner tetap buat malam Mingguan. Isi pesanku ke dia sebenarnya sederhana saja. Mengingat si gendut ini adalah penggila timnas Endonesa, selepas pertandingan berat sebelah di mana Endonesa mengurung kotak penalti Filipina hampir sepanjang pertandingan itu, aku mengirim pesan yang menyebutkan, kalo begini caranya lawan Korea besok bakalan rame. Continue Reading


Manusia yang Tak Pernah Gagal

Kapan hari kemarin aku ngobrol-ngobrol sama Rian, adik sepupuku. Doi lagi nginep di rumah sehubungan dengan acara ospek di kampus barunya. Yeah, gara-gara dia akhirnya resmi jadi mahasiswa dan kampus barunya letaknya lebih deket dari rumahku ketimbang dari rumahnya yang harus nyebrang propinsi itu, akhirnya untuk kebutuhan ospeknya dia memilih buat nginep di rumahku sahaja.

Kami ngobrol banyak hal, mulai dari gagalnya dia keterima di universitas negeri sampai dengan teman-temannya yang, ealah…jebulnya pada bernasib sama. Sama-sama gagal tembus SNMPTN, maksudnya. Continue Reading


Urip Kuwi Ra Segampang Cocote Mario Teguh…dan Yusuf Mansyur

Suatu malam dengan gerimisnya, di daerah Maguwo, Jokja, berkumpullah 3 orang pria butut plus 1 bujangan tampan. Bujangan tampannya sudah jelas itu aku, sementara 3 begundal lainnya cukuplah kita kenal sebagai Saber, Joseph, dan Ucup (bukan nama sebenarnya, karena di akte kelahiran mereka tidak pernah terketik nama-nama tersebut. Nama-nama yang barusan itu hanyalah panggilan mesra dari lingkungan di sekitarnya).

Berbicara tentang Joseph dan Ucup, aku sempat heran… Heran betapa diskriminasi sosial atas sebuah nama bisa sebegitu kuat melekat imejnya. Bayangkan tentang Joseph. Ketika membaca nama yang seperti itu, apa yang terlintas di benak sampeyan? Lalu bayangkan pula tentang Ucup. Sekarang apa yang ente pikirkan? Continue Reading