Browsing posts in: Ngopi Neeh

Garuda (yang Bermasalah) di Dadaku

Bicara tentang tim nasional sepakbola Endonesa dalam rangka Piala AFF 2010, tadi malam aku sempat ngobrol sama Gagar, adik sepupuku. Aku bilang ke dia, “Separuh lebih dari jumlah laki-laki di Endonesa pasti pernah bermimpi memakai kostum timnas dengan lambang Garuda di dada kiri.”

Aku nggak tau dari mana datangnya keyakinan itu. Datanya nggak valid, kok. Wong aku belum sempat ngadain survey ke seluruh wilayah Endonesa. Jadi bolehlah kalo mau menyimpulkan bahwa pernyataanku itu kubuat dengan standar diriku sendiri, yang pernah bermimpi memakai seragam itu, dengan nomor punggung 10, dengan ban kapten melingkar di lengan kiri, sambil terus berlari memporak-porandakan barisan pertahanan lawan dari sisi sebelah kanan. Continue Reading


Gojeg Kere, AIDS, dan Autis

Sudah tau tentang Pak Menteri Kominfo kita, Tifatul Sembiring, bikin gojegan kepanjangannya AIDS di Twitter-nya masuk Straits Times? Kalo belum, sekarang ta’kasih tau, deh, kalo gojegan AIDS-nya Pak Menteri – yang dipanjangkan jadi “Akibat Itunya Ditaruh Sembarangan” – masuk Straits Times. Sudah siap? Oke! Eh, sodara-sodara, gojegan AIDS-nya Pak Menteri masuk Straits Times, lho. Yakinlah, sumpah!

Nah, aku baik, kan, udah mau ngasih tau sampeyan semua? :mrgreen: Continue Reading


Palestina dan Piala Dunia

Dari sebuah orasi di sebuah mesjid ngetop di kawasan Jokja selatan:

“Ada yang bilang Palestina nggak perlu dibantu karena saudara-saudara kita di tanah air masih banyak yang butuh bantuan. Daripada membantu Palestina lebih baik membantu saudara-saudara kita sendiri di tanah air terlebih dahulu. Tapi mereka yang bilang begitu itu nggak konsisten. Buktinya, kalau Piala Dunia mereka malah sibuk ngobrolin Jerman, Italia, Belanda, Brazil, atau Argentina. Seharusnya kalau mereka memang tidak mau mengurusi masalah internasional, mereka juga jangan ngurusin Piala Dunia. Cukup yang lokal-lokal. Liga Indonesia aja.” Continue Reading


Coro dan Penyuka Sesama Jenis

Perhatian, sodara-sodara! Sebelum antum memutuskan untuk membaca tulisanku lebih lanjut di bawah ini, ta’peringatkan – sekali lagi – kalo tulisanku ini bukanlah sebuah disertasi ilmiah yang bisa dipertanggung-jawabkan isinya. Tulisanku ini cuma gerutuan kecilku, yang berhak untuk disetujui atau juga dicaci lebih jauh oleh mereka-mereka yang menilai aku ini tidaklah manusiawi.

Tapi ya apa boleh buat… Tulisan di bawah ini adalah perkara sebuah selera. Dan apa boleh buat juga, namanya manusia ya seleranya pastilah berbeda-beda. Continue Reading


Two Wrongs Make A Right?

Ngakunya Roy Suryo:

Ia menguraikan, teriakan ”huu…” yang dilakukannya saat rapat paripurna tidak hanya dilakukannya sendiri. Namun, ekspos tentang kasus itu hanya mengarah kepada dia. ”Ada satu televisi berita yang memang ’terlalu cinta’ kepada saya, demi pesanan tertentu, membuat character assassination, maka satu kamerawati terus men-shoot saya dan merekam sepanjang acara,” kata Roy.

Hooo… Mempraktekkan two-wrongs-make-a-right sekaligus mencoba playing victim, duhai Kanjeng Raden Mas Tumenggung? Continue Reading


Sedikit Takut…

Perhatian! Tulisan di bawah ini – yang ta’kopas dari notes Fesbuk-nya Hanan, temen sekampusku – bakal menjelaskan kenapa postinganku kali ini judulnya macam di atas itu: Continue Reading




Dengkulmu! Mau Bisnis, Kok, Nggak Punya Modal?

kaos distro produksinya mas joe

Setauku – yang kusari-patikan dari ucapannya Oom Udin – di dunia ini nggak ada yang namanya bisnis tanpa modal. Jadi kalau misalnya besok-besok ente mendapati seseorang yang ngajakin ente joinan buat bisnis dan bilang kalo bisnisnya itu tanpa modal, wah, sumpah, itu orang sedang ngibul sama ente. Hati-hati saja, jangan biarkan kengibulannya berkembang lebih jauh sampe-sampe ente kemakan kibul-kibulannya. Makanya, sekali lagi ta’tekankan, di dunia ini nggak ada bisnis tanpa modal. Continue Reading


Gue dan Lo

Sejak jaman kapan tahun, entah kenapa aku mulai sadar kalo aku ini rasa-rasanya menganut paham chauvinisme yang nyaris ekstrim. Misalnya aja, aku suka sengit kalo ndenger orang yang bukan asli Jakarta, sedang nggak berada di Jakarta, nggak pernah hidup lumayan lama di Jakarta, menggunakan kata “gue” dan “lo” sebagai pengganti “aku” dan “kamu” dalam percakapan sehari-harinya. Continue Reading