Browsing posts in: Ngopi Neeh

Undangan Manten

Pembaca yang budiman sekalian, kapan hari kemarin Hanna, adik kelasku jaman mahasiswa, sempat apdet status via Fesbuk. Statusnya, buatku, cukup menggelitik. Tentang undangan manten, sebagaimana berikut ini:

gak ada yg salah dg undangan nikah lewat fesbuk… Knp slalu ada saja yg mempermasalahkan? Hmmph… Apakah keformalan jg bagian dari pertemanan??? Owh please deh…

Lalu kenapa buatku cukup menggelitik? Ya karena alasan sebagai berikut ini juga: Continue Reading


Dukung Palestina? Mikir Sedikit, Tolol!

Ngobrolin perkara Palestina versus Israel ini kayaknya memang sampai kiamat nggak bakal ada habisnya juga. Sungguh. Betapa tidak, ketika kitab suci ente adalah Alqur’an maka dengan mudahnya ente bakal memihak Palestina. Tapi bagaimana kalau kitab suci ente adalah Taurat? Ah, sepertinya ini sama kayak kalau katepe Anda Jakarta maka Anda bakal jadi suporternya Persija Jakarta, dan kalau katepe sampeyan katepe Bandung maka sampeyan bakal mati-matian ndukung Persib Bandung.

As simple as that, tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Continue Reading


Fasilitas: Ilmu(?)

Kadangkala aku bingung sama panitia-panitia – terutama dari seksi tukang bikin poster – seminar-seminaran dan workshop-workshopan di luar sana…

poster seminar dengan fasilitas berupa ilmu
Continue Reading


Kalau Cuma Buat Kalah, Mending Kami Saja!

Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, dan buburnya sendiri sudah terlanjur terlalu encer untuk disebut sebagai bubur (sup mungkin malah lebih tepat). Diganyang 10 gol tanpa balas sama Bahrain tentu saja memalukan. Tapi ya mau bagaimana lagi? Wong timnas sepakbola Endonesa dalam kondisi terbatas gara-gara kisruh mawut ala PSSI, kok. Jadi ya apa boleh buat…maju dengan pasukan seadanya dan jadi bulan-bulanan kesebelasan lawan tentu adalah konsekuensinya. Continue Reading


Logika Valentine

Valentine buatku memang selalu rame. Rame? Yeah, rame. Rame perdebatan yang keliatan tak berujung-pangkal, meskipun buatku sendiri ujung-pangkalnya sangat jelas. Rame perdebatan tentang halal-haramnya, walaupun buatku halal-haramnya juga sangat kelihatan. Tapi ya itu memang buatku. Standarku nggak bisa disamakan dengan orang lain, begitu juga isi otakku, begitu juga level pemahamanku, semuanya tidak bisa disamakan dengan milik orang lain.

Jadi? Continue Reading


Dan, Tambah Banyak Lagi Jumlah Muslim yang Makin Ngawur

Perkara bahwa masih banyak umat Muslim di Endonesa yang bahlul, itu kuakui. Dari beberapa komentator di tulisanku tentang ketololan yang dilakukan oleh oknum umat Muslim Endonesa, lebih dari separuhnya ternyata memang bertindak membenarkan tulisanku. Alih-alih pengen mendebat pernyataanku yang dalam sangkaan mereka menodai ajaran Islam, komentar mereka malah semakin menunjukkan kalo mereka – sungguh sayang sekali – memang tolol kuadrat. Eh, salah… Bukan tolol kuadrat lagi, dink. Kemungkinan besar malah sudah sampai level tolol pangkat 3 atau pangkat 4. Continue Reading


Sepatunya Ganggas dan Rok Mini

Ini adalah sebuah kisah nyata. Kejadiannya hari Senin minggu kemarin. Cuma kenapa baru ta’ceritain sekarang, apalagi alasannya kalo bukan akunya lagi sibuk? Alasan klasik, ya? Yeah, memang. Tapi ya apa boleh buat, memang begitulah keadaannya. Nulis itu toh tergantung mood. Kalo akunya lagi nggak mood nulis, manalah bisa akunya dipaksa? Iya, kan? Iya, kan? Iya aja, deh. Continue Reading


Genosida dan Republik Ini

Dulu aku pernah bilang ke temanku, sekitar 3-4 tahun yang lalu, kalo pengen birokrasi pemerintahan republik ini bersih, genocide 2 generasi di atas kita. Sekarang akunya terpaksa bilang, kalo pengen birokrasi pemerintahan republik ini bersih, selain 2 generasi di atas kita, genocide juga generasi kita. Beleng! 👿 Continue Reading


Gadget Generation

Tulisan ini dibuat gara-gara draft-nya sudah ngumpul di otak sejak Ramadhan tahun lalu. Dan berhubung sekarang sudah hampir Ramadhan lagi, kayaknya jadi nggak enak juga kalau tulisan ini ndak terbit-terbit.

Tulisan ini dibuat gara-gara si Wib pernah cerita ke aku, tentang junior-juniornya di sanggar teater yang dia pisuh-pisuhi, padahal sebelumnya – sepengakuannya – dia nggak pernah misuh sekasar itu ke junior-juniornya yang lain.

Tulisan ini dibuat gara-gara Septo bilang, sepertinya ada generation gap di antara generasi kami dan generasi di bawah kami seputar urusan gadget. Kata Septo, kami, kalau beli gadget biasanya menyesuaikan gadget yang mau dibeli dengan kebutuhan kami. Sementara yang sekarang, orangnyalah yang menyesuaikan diri dengan fitur yang disediakan sama gadget-nya. Continue Reading


Pagi (-pagi Sudah) Berbagi

sedekah, den...paring paring sedekah, den

Ngobrol tentang sedekah dan rasa ikhlas, sejujurnya, sumpah mati nggak pake ngibul, aku ini orang yang sangat sulit untuk berbuat ikhlas. Dalam melakukan apapun, bolehlah dipercaya bahwa pernyataanku ini memiliki kadar akurasi sampai dengan 90%, aku ini selalu mengharap pamrih. Sangat sulit buat antum sekalian menjumpaiku dalam kondisi 10% sisanya. Bahkan kalo ada yang berkata, “Mas Joe itu cuma nggak pelit kalo sama cewek cantik,” sebaiknya ente jangan langsung manggut-manggut percaya. Continue Reading


Barang yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Bisa Ditukar Ataupun Dikembalikan

A Red Herring is a fallacy in which an irrelevant topic is presented in order to divert attention from the original issue. The basic idea is to “win” an argument by leading attention away from the argument and to another topic. This sort of “reasoning” has the following form:

1. Topic A is under discussion.
2. Topic B is introduced under the guise of being relevant to topic A (when topic B is actually not relevant to topic A).
3. Topic A is abandoned.

This sort of “reasoning” is fallacious because merely changing the topic of discussion hardly counts as an argument against a claim.

Pertama-tama, sebelum kita menginjak pada bahasan kita pada kesempatan kali ini, untuk menambah khazanah pengetahuan bagi para pembaca yang terhormat sekalian, berikut ta’umumkan kalo aku sekarang sedang berada di Jakarta. Dan, sebelum menambah kecurigaan bagi para pembaca yang terhormat – karena mungkin saja ada yang mbatin, “Ngapain Mas Joe ke Jakarta pas tanggal-tanggal segini? Jangan-jangan dia mau valentinan sama Ayu…” – langsung saja ta’sampekan kalo aku ke Jakarta demi menghadiri mantenannya Saber, dewa coding kebanggaan Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada pada umumnya, dan angkatan 2004 pada khususnya. Continue Reading