Browsing posts in: Ngopi Neeh

Baik Versus Pamrih

Kalo lagi kesambet malaikat, entah itu Gabriel atau Michael atau malah yang lainnya, aku kadang-kadang jadi suka berbuat baik. Misalnya aja waktu harga 1 batang komik “Impeccable Twins” masih 9 ribu rupiah. Tiap kali aku ke Gramedia buat belanja komik silat tersebut biasanya aku mbayar pake lembaran 10 ribu dan otomatis disusuki 1000 rupiah. Turun ke basement buat ngambil motorku aku harus bayar ongkos parkir yang waktu itu masih 500 perak. Alhasil uang yang kupunya tinggal 500 perak juga. Continue Reading


Produktivitas, Pamer, Persetan

Suatu menit, setting tempatnya di kampus MIPA Selatan tercinta, aku yang lagi mondar-mandir di depan ruang Himakom tiba-tiba ditegur oleh seorang teman sekampus. “Joe, kamu itu kok nggak produktif banget, sih? Bikin apa gitu, kek, yang penting tunjukin kalo kamu itu produktif,” katanya. Continue Reading


Melestarikan Kebudayaan Itu Pemborosan

Beberapa jam yang lalu aku jalan-jalan sama Anis ke pameran buku di Gedung Wanitatama. Sempat juga keliling buat nyari “Ayat Ayat Cinta” titipannya Imuz yang alhamdulillahnya nggak ketemu sampai akhirnya aku beli buku “Babad Tanah Jawi”.

Lhaaa… Pas aku keliling-keliling nyari titipannya Imuz itu tiba-tiba aku tertahan di sebuah stand yang berjudul aku-lupa-namanya. Di stand itu aku ngeliat buku yang judulnya “Ensiklopedi Wayang Indonesia” terbitannya Sena Wangi sebanyak 6 jilid. Continue Reading


Mampus Zonder 7 Hari

Seharusnya, waktu aku nulis ini, Pak Harto, mantan presiden Endonesa yang kedua kita itu, sudah teruruk sama tanah di Astana Giri Bangun sana. Seharusnya juga dia nggak bakal sempat blogwalking lagi untuk membaca tulisan tentang kekecewaanku kepadanya, juga penghormatan berlebihan yang diterimanya.

Kecewa apa? Oho, iya, aku kecewa sama pernyataan pemerintah Endonesa yang bilang kalo bangsa kita harus berkabung selama 7 hari demi mengingat jasa-jasa simbah kakung kita tercinta tersebut. Continue Reading


Maaf, Bisa Tawarkan Sesuatu yang Lebih?

Tanggal 16 kemarin ini ada komentar yang masuk di blogku yang lama. Sempat heran juga, kenapa Mbak Febby (nama si komentator) itu justru nulis komentar di blogku yang lama dan bukan langsung menuju ke link blog baruku yang ta’sertakan di postinganku yang dikomen sama dia, kemudian, kalo sudah, ngomen di blog ini.

Masih untung, lho, Mbak, bahwasanya aku masih rajin nengok-nengok blogku yang lama. Coba kalo misalnya aku ini bukan tipe cowo yang rajin, pastilah iklan yang disebarkan sama Mbak Febby nggak bakal ta’respon (makanya aku sekalian nyaranin, mending komentarnya diulang di sini lagi, Mbak. Blog yang lama jumlah pengunjungnya sudah menipis, huehe). Continue Reading



Kepekaan dan Tahun Baru

Sebentar lagi libur Tahun Baru Hijriyah. Tentu saja libur itu kusambut dengan suka-cita, karena dari dulu, dari jaman kecil, setiap beli kalender baru, hal pertama yang kulakukan adalah melihat-lihat tanggal merahnya. Tanggal merah berarti ndak usah sekolah. Betapa menyenangkannya. Tidak ada kewajiban malam sebelumnya harus bikin pe-er yang memang tidak begitu kusukai. Continue Reading


Blogger Bukan Teladan? Bukan Blogger Teladan?

Perhatian! Postingan ini kutulis demi menjawab pertanyaannya Mas Pepeng di postingannya yang menanyakan tentang keteladanan dari seorang blogger.

Jadi menurut penafsiranku, di postingannya Mas Pepeng itu, beliau kayaknya lagi misuh-misuh dengan seorang blogger yang membuatnya misuh-misuh (halah! Ya jelas). Blogger tersebut – yang sebenarnya kuketahui identitasnya dari Mas Zamroni dan Mas Anto (duet mawut kita, Dab!) waktu kopdaran di Djendelo Cafe kemarin – menunjukkan gelagat sebagai seorang seleblog papan atas, ngetop, sering diundang buat nyonthong sana-sini, tapi sayangnya memiliki karakteristik yang betul-betul kampret, kayak yang disimpulkan oleh Mas Pepeng sebagai ciri-cirinya seperti berikut ini: Continue Reading


Pages:1234567