Kutub Kita Berbeda, Cinta

Masih inget sama Reen? Reen itu temenku yang dulu dengan konyolnya pernah pengen bunuh diri. Untung saja pada akhirnya beliaunya berhasil ta’insyapkan. Ya, ya, ya, untung ada saya.

Jadi menurut shohibul hikayat, beberapa hari kemarin aku telepon-teleponan lagi sama Reen. Tentu saja dia yang nelepon, bukan aku. Masak iya harus aku yang nelepon? Yang ngganteng itu, kan, aku. Jadinya ya memang sudah sewajarnya kalo aku ditelepon sama cewek :mrgreen: Continue Reading


The Most Goblok Event of the Week

Gambarnya diklik, deh. Habis itu terus dibaca, dan jawablah pertanyaanku: memangnya Islam itu nggak demokratis?

Aku heran, sudah jadi mahasiswa (eh, mahasiswi, ding. Kan khusus muslimah ๐Ÿ˜ˆ ), kok ya masih aja gobloknya ndak berkurang. Ckckck…


Ongkos Parkir di Jokja

Sesungguhnya, yang sesungguh-sungguhnya, ongkos parkir motor di Jokja yang resmi itu berapa, tho? 500 atau 1000 perak? Bukan apa-apa, soale bahkan di dalam halaman kantor samsat Jokja pun aku ditagih ongkos parkir 1000 rupiah sama segerombolan (yang nagih, sih, sebenernya 1 orang aja. Cuma temen-temennya ada banyak :mrgreen: ) tukang parkir berseragam preman. Udah gitu, karcis parkirnya ndak dikasih lagi. Gembel! Jindal!



Obat Pembangkit Syahwat

Hari-hari terakhir ini, beberapa oknum mahasiswa di Himakom otaknya lagi pada nggeser. Misalnya aja Radit sama Udin – sebut saja begitu – juga aku, mungkin gara-gara darah muda yang meledak-ledak, jadi kepikiran buat njajal obat perangsang libido yang disinyalir berjudul pothenzol untuk dicekokkan ke cewek-cewek. Beberapa nama cewek di kampus yang keliatan binal sudah masuk daftar calon korban dan nanti rencananya bakal kami garap sendiri-sendiri sesuai selera. Continue Reading


Baik Versus Pamrih

Kalo lagi kesambet malaikat, entah itu Gabriel atau Michael atau malah yang lainnya, aku kadang-kadang jadi suka berbuat baik. Misalnya aja waktu harga 1 batang komik “Impeccable Twins” masih 9 ribu rupiah. Tiap kali aku ke Gramedia buat belanja komik silat tersebut biasanya aku mbayar pake lembaran 10 ribu dan otomatis disusuki 1000 rupiah. Turun ke basement buat ngambil motorku aku harus bayar ongkos parkir yang waktu itu masih 500 perak. Alhasil uang yang kupunya tinggal 500 perak juga. Continue Reading


Produktivitas, Pamer, Persetan

Suatu menit, setting tempatnya di kampus MIPA Selatan tercinta, aku yang lagi mondar-mandir di depan ruang Himakom tiba-tiba ditegur oleh seorang teman sekampus. “Joe, kamu itu kok nggak produktif banget, sih? Bikin apa gitu, kek, yang penting tunjukin kalo kamu itu produktif,” katanya. Continue Reading


Melestarikan Kebudayaan Itu Pemborosan

Beberapa jam yang lalu aku jalan-jalan sama Anis ke pameran buku di Gedung Wanitatama. Sempat juga keliling buat nyari “Ayat Ayat Cinta” titipannya Imuz yang alhamdulillahnya nggak ketemu sampai akhirnya aku beli buku “Babad Tanah Jawi”.

Lhaaa… Pas aku keliling-keliling nyari titipannya Imuz itu tiba-tiba aku tertahan di sebuah stand yang berjudul aku-lupa-namanya. Di stand itu aku ngeliat buku yang judulnya “Ensiklopedi Wayang Indonesia” terbitannya Sena Wangi sebanyak 6 jilid. Continue Reading


Dian Sastrowardoyo, Terus?

Ya, ya, ya… Oke, aku tau kalo Dian Sastrowardoyo, gadis yang selalu membayangi kehidupanku sejak jaman esema, sekarang sudah mulai ngeblog. Aku tau kalo baru dipublish beberapa hari, blognya Dian sudah banjir komentar. Aku juga tau kalo baru muncul beberapa hari, sudah ada sekian banyak komentator yang mengklaim diri bakal jadi pengunjung setia blognya Dian. Dan lagi-lagi aku tau kalo tukang komentar di blognya Dian kebanyakan berjenis kelamin pejantan (entah tangguh, entah tidak).

Lha, terus? Continue Reading


Rambo IV

Kemarin, sore-sore dari kantor ke 21 nonton “Rambo IV”, yang disutradarai sekaligus dilakoni sama Sylvester Stallone, rame-rame bareng si bos, Hobby, Naldo, sama Oom Udin. Sengaja nggak ngajak cewek sehubungan dengan aku sendiri lagi pengen untuk tidak dikerubuti wanita, konon katanya si Rambo versi yang sekarang ini filmnya jauh lebih brutal daripada yang kemarin-kemarin. Continue Reading


Mampus Zonder 7 Hari

Seharusnya, waktu aku nulis ini, Pak Harto, mantan presiden Endonesa yang kedua kita itu, sudah teruruk sama tanah di Astana Giri Bangun sana. Seharusnya juga dia nggak bakal sempat blogwalking lagi untuk membaca tulisan tentang kekecewaanku kepadanya, juga penghormatan berlebihan yang diterimanya.

Kecewa apa? Oho, iya, aku kecewa sama pernyataan pemerintah Endonesa yang bilang kalo bangsa kita harus berkabung selama 7 hari demi mengingat jasa-jasa simbah kakung kita tercinta tersebut. Continue Reading