Dari jaman kecil, entah karena sebab-musabab apa (mungkin gara-gara bapakku yang hobi ngasih teka-teki yang bukan teka-teki plesetan dan ngasih aku duit kalo aku berhasil mecahin teka-tekinya), aku seneng baca-baca cerita detektif-detektifan. Favoritku waktu jaman esde adalah serialnya STOP, alias Sporty, Thomas, Oskar, Petra. Dan walopun di situ disebutkan tokohnya ada 4 orang, dengan sangat menyesal ta’beritahukan ke sidang pembaca bahwa serial itu adalah Sporty-show. 3 orang teman Sporty lainnya seakan-akan cuma kebagian peran sebagai batur sahaja. Mentok-mentoknya cuma Oskar-lah yang menemani Sporty memberantas kejahatan sebagai side-kick. Perannya Oskar bolehlah dibilang mirip dr. Watson dan Sporty adalah Sherlock Holmes-nya.
Anak-anak STOP itu umurnya masih pada 13 tahunan. Berhubung ketika pertama kali mengkonsumsi STOP aku waktu masih kelas 2 esde, aku nggak merasakan kemustahilan kalo anak-anak umur 13 tahun itu bisa berkeliaran di waktu mitnait buat menegakkan kebenaran dan keadilan. Cuma saja, begitu aku masuk esempe, menginjak umur yang sama dengan Sporty di bukunya, aku malah jadi mbatin, wah, ternyata ceritanya STOP terlalu ngayal ini… Aku juga sudah 13 tahun tapi, kok, ya belum bisa memberantas ketidak-adilan di muka bumi? Ini pasti ada yang salah sama bukunya. Yang ngarang pasti waton membual ini. Dasar kapitalis! Membohongi anak-anak kecil dengan mengarang cerita yang nggak masuk akal! Continue Reading