Browsing posts in: Njajal-njajal

Anak Kos Dodol Lagi: Kutukan Sekuel

Percaya ataupun ndak percaya, manusia dalam hidupnya butuh keseimbangan, yang tentunya dalam perkara yang tidak merugikan orang lain. Apapun yang dilakukan secara rutin dan terus menerus pasti bakal membosankan dan kita bakal membutuhkan sesuatu yang berlawanan untuk menetralisir. Coding terus-terusan pasti bikin mumet, dan Saber (sebutannya adalah “The Prince of Code”, lagu favoritnya adalah “Nyanyian Kode“) membutuhkan futsal untuk pelampiasannya. Tapi futsal terus-terusan sampai nggak coding-coding ternyata bikin pusing juga. Hidup nggak tenang gara-gara banyak pihak bertanya, kapan mau wisuda? Begitulah kalo hidup cuma diisi main-main terus sampai melupakan coding dalam rangka menyusun skripsi. Tanyakan saja hal itu pada adik-adik kelasku yang mulai menuai karma dari perbuatannya dahulu: ngece-ngece aku sebagai mahasiswa abadi yang nggak lulus-lulus kuliah. Continue Reading


Holmes Setelah Era Sir Arthur

Dari jaman kecil, entah karena sebab-musabab apa (mungkin gara-gara bapakku yang hobi ngasih teka-teki yang bukan teka-teki plesetan dan ngasih aku duit kalo aku berhasil mecahin teka-tekinya), aku seneng baca-baca cerita detektif-detektifan. Favoritku waktu jaman esde adalah serialnya STOP, alias Sporty, Thomas, Oskar, Petra. Dan walopun di situ disebutkan tokohnya ada 4 orang, dengan sangat menyesal ta’beritahukan ke sidang pembaca bahwa serial itu adalah Sporty-show. 3 orang teman Sporty lainnya seakan-akan cuma kebagian peran sebagai batur sahaja. Mentok-mentoknya cuma Oskar-lah yang menemani Sporty memberantas kejahatan sebagai side-kick. Perannya Oskar bolehlah dibilang mirip dr. Watson dan Sporty adalah Sherlock Holmes-nya.

Anak-anak STOP itu umurnya masih pada 13 tahunan. Berhubung ketika pertama kali mengkonsumsi STOP aku waktu masih kelas 2 esde, aku nggak merasakan kemustahilan kalo anak-anak umur 13 tahun itu bisa berkeliaran di waktu mitnait buat menegakkan kebenaran dan keadilan. Cuma saja, begitu aku masuk esempe, menginjak umur yang sama dengan Sporty di bukunya, aku malah jadi mbatin, wah, ternyata ceritanya STOP terlalu ngayal ini… Aku juga sudah 13 tahun tapi, kok, ya belum bisa memberantas ketidak-adilan di muka bumi? Ini pasti ada yang salah sama bukunya. Yang ngarang pasti waton membual ini. Dasar kapitalis! Membohongi anak-anak kecil dengan mengarang cerita yang nggak masuk akal! Continue Reading


Reviewmu.com: Menunggu Status

Demi memuaskan sidang pembaca yang selalu haus akan informasi, berikut ta’beritaukan kalo beberapa waktu terakhir ini aku lagi rajin-rajinnya njajal program paid review. Supaya apa sodara-sodara? Yak, betul! Supaya dapet duit. Nantinya duitnya itu bakal ta’sumbangin ke fakir miskin dan kaum dhuafa ta’pake buat beli sepeda BMX, biar aku keliatan keren kayak Dave Mirra. Nanti kalo aku keliatan keren, kan, wanita-wanita pasti bakal mendekat, dan marilah kita berdoa supaya Dian Sastrowardoyo atau Sandra Dewi termasuk di antara salah dua wanita terbesut, aeh, tersebut.

Singkat cerita, salah satu program paid review yang niatnya mau ta’jajal adalah Reviewmu.com. Ada beberapa alasan kenapa aku milih benda tersebut. Pertama, karena ini adalah paid review Endonesa yang kutemukan di halaman awal lewat pencarian via Gugel. Kedua, dengan berbahasa Endonesa tentunya aku ndak bakal kerepotan harus nulis serepot kalo aku ikutan program paid review yang pake bahasa linggis (baca: Inggris). Bahasa linggisku tiada bagus, soale. Ketiga, konon, benda yang ta’sebut barusan adalah punyanya Cosa Aranda. Reputasinya bolehlah terpercaya karena – setidaknya – doi pernah ngisi workshop tentang blogging di bekas kampusku. Continue Reading


JanganDibuang.com-nya Si Jejula

Di kampus Milan (MIPA Selatan, maksude) UGM aku ini memang ngetop. Di situ aku kenal dan dikenal sama banyak manusia mulai dari mahasiswa angkatan 1999 sampe 2008. Bukan apa-apa, sih… Untuk angkatan 2001 dan sebelumnya, aku dikenal sama mereka gara-gara aku sering disuruh-suruh sewaktu masih anyar-anyarnya jadi pengurus hariannya Himakom pas aku masuk tahun 2002. Continue Reading



Rock(ok) Alternatif

Ada yang suka ngerokok? Ada yang suka Djarum Super? Aku suka. Aku suka ngerokok Djarum Super. Djarum Super 12, lebih tepatnya. Kadang-kadang juga, kalau lagi (kepengen keliatan) kaya, aku juga mampir ke Circle K buat beli sebungkus Mild Seven Lights. Tapi yang terakhir itu betul-betul cuma kadang-kadang. Rokok primerku sampai sekarang tetaplah Djarum Super. Sialnya sangu bulananku terbatas. Jadinya aku malah lebih sering beli eceran, yang biasanya warung di depan rumah tempatku beli rokok lebih memilih buat ngecerin Djarum Super 16 ketimbang Djarum Super 12. Lebih untung, soale. Padahal sudah jadi rahasia umum kalo batangan Djarum Super isi 16 itu nggak seenak yang isi 12. Continue Reading


Ini Semua Demi Kamu, Di!

Pernah ngerasain mengagumi seseorang tapi cuma bisa kita lakukan dari jauh? Aku pernah dan bahkan masih. Aku menyukai seseorang tapi rasanya, kok, ya dia itu jauh dari jangkauanku. Mau mendekati secara frontal, ealah…aku sungkan. Ada banyak faktor yang ternyata menjadi kendala. Lingkungan yang berbeda, gaya hidup yang berlainan, sampai juga faktor keterbatasan finansial yang membuatku nggak mungkin melakukan pendekatan yang intensif, semuanya akhirnya cuma bisa menghasilkan sebuah kekaguman dari jarak jauh. Sangat jauh, malahan. Continue Reading


Laskar Pelangi: Filmnya

Sejujurnya, kecuali bagian sampulnya, sehuruf pun aku belum pernah mbaca novel “Laskar Pelangi” yang konon fenomenal itu; cuma tahu garis besar ceritanya. Bukan apa-apa, sih. Bukan nggak tertarik untuk beli atau bahkan nggak punya duit untuk beli buku itu. Nggak mungkin! Sama sekali nggak mungkin. Anak muda kaya-raya seperti aku manalah mungkin sampai nggak punya duit buat beli buku yang diprediksi bakal jadi buku legendaris di Endonesa itu, ya kan? Continue Reading


Iga Bakar: Bukan Tempat Pedekate

Aku masih sakit, sakit hepatitis A. Dan gara-gara maksa ikutan upacara wisuda kemarin sakitku malah jadi tambah parah. Dan gara-gara sakitku tambah parah, mamakku terpaksa masih nemenin aku di Jokja (bapakku, sih, sudah pulang). Dan gara-gara mamakku masih nemenin aku, akunya malah jadi bisa berfoya-foya, makan sesukanya mumpung dibiayai orang tua. Aku sempat minta dibeliin sate ayam, sate kambing, tongseng, hamburger, pizza, dan lain-lain. Pokoknya makanan apapun yang aku pengenin – gara-gara lagi sakit – pasti diturutin. Terakhir kemarin, akhirnya aku kesampaian juga njajal maem iga bakar di Iga Bakar. Continue Reading


Nasib Anak Kos

Buatku, bacaan semodel teenlit atau chicklit itu terlalu ringan. Nggak pernah berhasil memaksa otakku untuk berpikir.

Maka kalo ada buku yang isinya ringan yang rasanya pantas buat kurekomendasikan buat orang lain, selama di Jokja aku baru nemu kemarin itu (lagi-lagi) pas kebetulan ngeceng di Togamas. Judulnya “Anak Kos Dodol”, karangannya Mbak Dewi “Dedew” Rieka (nggak seru ini. Blognya di Multiply, alias nggak bakalan bisa ikutan ngasih komentar kalo kita bukan member Multiply juga), terbitannya Gradien Mediatama. Continue Reading


Lupus, yang Dulu Pernah Kukenal

Setiap habis Ramadhan, aeh, itu, sih, lagunya Bimbo. Maksudku, setiap habis gajian, ritual bulanan yang selalu kulakukan adalah menyambangi Togamas, sebuah toko buku ngetop di Jokja yang selalu memejeng harga lebih murah daripada kalo aku harus beli buku di Gramedia. Dan untuk kesempatan bulan Juli ini aku kembali menyambangi Togamas buat beli buku. Continue Reading