Hai, Mas Joe

Tadi siang, waktu transit di Milan (MIPA Selatan, maksudku) UGM – buat nunut ke toilet sebelum berangkat kuliah Akta 4 di kampus terpadunya UII – dari kantor, di depan lab, sambil berjalan cepat-cepat gara-gara kebelet pipis:

“Hai, Mas Joe,” sapa seorang gadis (eh, nggak tau juga, ding, masih gadis atau sudah enggak ๐Ÿ˜ˆ ) berjilbab, berparas lumayan manis yang lagi duduk-duduk di situ.

“Hai juga,” balasku sambil masang senyum alakadarnya (sumpah cuma alakadar! Lha wong lagi kebelet pipis, kok) dan langsung kembali berjalan cepat-cepat.

Kemudian samar-samar kedengeran suara bisik-bisik dari arah belakang, “Memangnya Mas Joe tau namaku?”

Duh! Yakin, jadi nggak enak ati akunya. Sering disapa sama dia tiap ketemu, tapi sampai sekarang aku nggak tau dia itu anak program studi apa, angkatan berapa, dan bahkan namanya. Kemarin-kemarin, sih, aku memang masih suka nyombong, “Kalo aku nggak tau siapa mereka, itu wajar. Tapi kalo sampe mereka yang nggak tau siapa aku, keterlaluan. Statusnya sebagai mahasiswa MIPA patut dipertanyakan.”

Tapi, kok, akhirnya aku jadi nggak enak ati ya, kalo harus denger sendiri secara live pertanyaan ngenes kayak yang di atas itu tadi? ๐Ÿ™


Nggak Ngopi?

“Nggak ngopi? Ngantuk lo.”
“Nggak. Gua Kratingdaeng aja.”
“Nggak takut kafein?”

Sampe sekarang aku masih heran sama iklan Kratingdaeng versi “nggak ngopi” itu. Tadinya Tika nyuruh ngopi, lha, kok, habis itu malah nanyain si Yosi takut kafein atau nggak gara-gara lebih milih Kratingdaeng ketimbang ngopi. Heran aku sama 2 makhluk dari Project Pop itu. Memangnya kopi itu nggak mengandung kafein?


Itu-itu Terus

Blogs of the Day di WordPress Indonesia semakin bikin bosen! Beberapa menit yang lalu aku iseng aja mbuka-mbuka barang semprul itu dan ternyata hanya mendapati sebuah postingan yang menarik hati: postingannya Guh tentang tips-tips membuat agama baru. Sejujurnya, buat aku postingan itu setipe dengan umumnya postingan-postingan Guh sejak jaman dia โ€“ konon โ€“ masih menjabat sebagai Wadehel. Tapi mau bagemana lagi? Cuma ada 1 postingan yang layak dibuka, sedang yang lain โ€“ buat aku โ€“ membosankan semua. Continue Reading


Balada Sang Tukang Ngutang

Kadang-kadang aku ini kampret juga, sekampret orang-orang yang biasa kukampret-kampretin. Misalnya aja kejadian lebih setahun kemarin yang melibatkan aku sama Ngurah Poyok, temen esemaku. Jadi ceritanya aku ini sudah lebih dari setahun nggak pulang ke Denpasar. Tahun lalu pas pulang, aku main ke distronya Poyok yang dikasih judul โ€œJerk Wardrobeโ€ sama dia. Niatnya, sih, cuma iseng-iseng aja main ke situ, sekalian ngeliat-ngeliat temen esemaku pada sudah berkembang sejauh apa. Continue Reading


Kembali ke Kampus

Sehubungan dengan tadi siang sehabis Jumatan aku nekat motoran menembus hujan ke kampus UII terpadu di Kaliurang kilometer 14,4 sana untuk ikutan kuliah perdana, maka dengan ini aku umumkan status baruku yang beralih dari pengangguran ke kembali menjadi mahasiswa. Lebih tepatnya mahasiswa program Akta 4 Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia.

Aku mau jadi guru. Hebat, kan, aku? Great Teacher Satrianto segera siap beraksi. Yak, tepuk tangan buat aku. Plok…plok…plok… Horeee! Continue Reading


Rock(ok) Alternatif

Ada yang suka ngerokok? Ada yang suka Djarum Super? Aku suka. Aku suka ngerokok Djarum Super. Djarum Super 12, lebih tepatnya. Kadang-kadang juga, kalau lagi (kepengen keliatan) kaya, aku juga mampir ke Circle K buat beli sebungkus Mild Seven Lights. Tapi yang terakhir itu betul-betul cuma kadang-kadang. Rokok primerku sampai sekarang tetaplah Djarum Super. Sialnya sangu bulananku terbatas. Jadinya aku malah lebih sering beli eceran, yang biasanya warung di depan rumah tempatku beli rokok lebih memilih buat ngecerin Djarum Super 16 ketimbang Djarum Super 12. Lebih untung, soale. Padahal sudah jadi rahasia umum kalo batangan Djarum Super isi 16 itu nggak seenak yang isi 12. Continue Reading


1 Jam (Kurang) Bersama Didit Komeng

Di kampus aku punya temen yang namanya Komeng. Aslinya doi punya nama lengkap Didit Yudha Setiawan. Tapi apa lacur, karena anatomi wajahnya (waktu rambutnya masih gondrong) mirip sama Komeng yang pelawak itu, akhirnya sampai sekarang perjaka paling nggak laku se-Ilmu Komputer UGM itu harus rela, pasrah, tabah, dan tawakal, sekaligus qana’ah dipanggil โ€œMas Komโ€ sama adik-adik kelasnya, yang tentu saja adalah kependekan dari โ€œMas Komengโ€. Continue Reading



Pak Obama

Jalan-jalan di frensterku, liat-liat bulletin board-nya dan mendadak nemu tulisan dari Adit yang bikin aku jadi agak tersipu malu:

Apa kebanyakan penduduk Indonesia mendukung Obama hanya karena fakta bahwa beliau pernah tinggal di Indonesia dan berharap bahwa kita akan diperhatikan secara khusus oleh AS???
Manja sekali bangsa ini.

Ahahaha, iya, aku sendiri waktu pertama tau tentang Barack Obama itu, pikiranku ya standar banget. Lumayan, nih, kalo manusia ini yang menang jadi presiden Amrik. Setidaknya Amrik bakal dipimpin sama (bekas) anak Menteng. Dan baru setelahnya aku mikir kalo keliatannya Obama itu lebih elegan dari dan tidak segrasa-grusu McCain. Kayaknya juga lebih keliatan cinta damai.

Cuma, kalo berharap Endonesa bakal diperhatikan atau bahkan dibantu khusus sama Amrik, kayaknya aku nggak mikir sampe ke situ, deh. Negeri ini sudah terlalu amburadul, soale. Kayaknya Endonesa sudah nggak bakal bisa selamat lagi walau dibantu sama siapapun. Sudah terlalu parah, duhai Pak Obama. Endonesa baru bisa selamat kalo negeri ini memang bener-bener sudah punya niat buat menyelamatkan dirinya sendiri. Eh, tapi niat aja nggak cukup, ya? ๐Ÿ˜ˆ


Tu Quoque

Kalo mbaca-mbaca lagi tulisan-tulisanku yang lama kadang-kadang aku tersipu-sipu malu sendiri, lho. Kadang-kadang (dan malah bahkan sering) aku jadi mikir, wah, dulu aku itu ternyata goblok banget ya.

Kenapa aku berpikir begitu, sodara-sodara?

Kenapa? Continue Reading


Tuhan yang Maha Tahu

Kira-kira Tuhan itu tau nggak kalo aku besok bakal masuk surga atau masuk neraka?

Lha, aneh pertanyaanmu. Ya Dia jelas tau, dong, wong Dia itu maha tahu.

Tapi, kan, itu masih terjadinya besok-besok. Masak iya Dia sudah tau tentang kejadian yang belum terjadi?

Lho, ya jelas. Tuhan, kan, nggak terikat sama waktu, wong yang namanya waktu itu juga ciptaannya Dia. Jadi mau kejadiannya kapan aja, di mana aja, tetap aja Dia tau, soalnya, ya itu tadi, Dia itu maha tahu dan nggak terikat sama ruang dan waktu. Continue Reading


Pages:1...28293031323334...41