FPI Sweeping Rumah Makan

Akhirnya, sodara-sodara, kelakuan manja beberapa oknum manusia yang kebetulan seiman sama aku – yang sempat dikhawatirkan sama Mas Nazieb – dalam rangka menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan terjadi juga. Dan judul yang ta’tulis di atas adalah judul artikel yang ta’baca di koran SINDO edisi hari ini. Yeah, manusia-manusia manja yang menamakan dirinya sebagai Front Pembela Islam itu mulai menyambangi warung-warung makan yang nggak menutupkan dirinya selama bulan Ramadhan untuk kemudian meminta (yang biasanya bakal berujung jadi sebuah pemaksaan) mereka supaya tutup. Continue Reading


X-Class: Dalam Kenangan

Aku punya teman, teman sepermainan. Di mana ada dia belum tentu ada aku (soalnya aku sibuk, banyak kerjaan. Biasalah, namanya juga eksekutip muda. Jadinya ya nggak bisa selamanya dolan-dolan bareng dia). Temanku itu namanya Faiz, komplitnya Achmad Faiz Farouqi. Tapi meskipun dia lebih sering menulis namanya sebagai Vaiz – dan kadang-kadang di depannya dikasih imbuhan “Steve” yang hasilnya adalah Steve Vaiz yang merujuk pada Steve Vai – anak-anak tetap saja lebih suka memanggilnya sebagai “Pa’is”. Continue Reading


Iga Bakar: Bukan Tempat Pedekate

Aku masih sakit, sakit hepatitis A. Dan gara-gara maksa ikutan upacara wisuda kemarin sakitku malah jadi tambah parah. Dan gara-gara sakitku tambah parah, mamakku terpaksa masih nemenin aku di Jokja (bapakku, sih, sudah pulang). Dan gara-gara mamakku masih nemenin aku, akunya malah jadi bisa berfoya-foya, makan sesukanya mumpung dibiayai orang tua. Aku sempat minta dibeliin sate ayam, sate kambing, tongseng, hamburger, pizza, dan lain-lain. Pokoknya makanan apapun yang aku pengenin – gara-gara lagi sakit – pasti diturutin. Terakhir kemarin, akhirnya aku kesampaian juga njajal maem iga bakar di Iga Bakar. Continue Reading



Otomatis Hepatitis

Aku sakit! Sakit beneran ini. Sakit lumayan serius untuk pertama kalinya sejak aku tinggal di Jokja 6 tahun yang lalu. Biasanya aku cuma meriang-meriang, batuk, umbel meler, atau pusing-pusing. Tapi yang sekarang ini aku bener-bener sakit. Sungguh.

Terjadi mutanisasi pada badanku. Badanku sekarang warnanya kuning, mataku juga. Malah aku sempat kuatir, kalo misalnya aku ngelepas kacamata takutnya dari mataku keluar sinar penghancur yang berwarna kuning juga. Jadilah aku sekarang menamai diriku sendiri sebagai Kunir-Man, alias Manusia Kunir yang Tampan mengingat walaupun badanku lagi menguning macam dibaluri kunir, aku tetap saja tampan. Continue Reading


Gadjah Mada Football Club dan Universitas Chelsea

Kapan hari kemarin itu adikku pulang dari kampus sambil misuh-misuh. Untuk pertama kali dalam karir hidupnya sebagai mahasiswa (eh, mahasiswi, ding. Dia, kan, cewek) dia dapet nilai C. Sebagai pengumuman, ta’beritahukan kalo adikku sekarang ini lagi menginjak tahun keduanya di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Dulu dia nyelesaiin S-1 Hukum-nya di Universitas Islam Indonesia.

Adikku ini memang agak kampret. Kuliah pertamanya selesai dalam 3,5 tahun. Predikat waktu lulusnya cum laude (sedangkan aku kemarin cuma dapat cum shot), yang artinya sekalipun nggak ada nilai C di transkrip nilainya. Dan gara-gara itu dia sering membangga-banggakan diri di depanku. Akunya, sih, cuma bisa pasrah sambil kadang-kadang ngeles, “Kamu nggak tau kejamnya Gadjah Mada, sih.” Apa boleh buat, nilai C di transkripku jumlahnya lebih banyak dibandingkan jumlah nilai B dan A-ku meskipun sudah digabung. Continue Reading


Walau Tapak Kaki Penuh Darah, Penuh Nanah

Ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah…

Kalau ditanya apa lagu tentang ibu yang paling bisa bikin aku terharu, ya jawabannya lagu “Ibu”-nya Iwan Fals yang di atas itu. Menurutku, syair di lagu itu adalah syair yang paling mengharu kalbu dibanding lagu-lagu dengan tema ibu yang lain. Kadang-kadang, kalau kebetulan pas lagi sendirian, aku seperti mau nangis aja kalau dengar lagu itu, apalagi pas masuk syair kayak yang aku quote di atas barusan. Continue Reading


Bal-balan

Sepertinya ada yang tidak terkomunikasikan
Pelatih memilih pemain cadangan
karena pemain inti tidak bisa diturunkan



Nasib Anak Kos

Buatku, bacaan semodel teenlit atau chicklit itu terlalu ringan. Nggak pernah berhasil memaksa otakku untuk berpikir.

Maka kalo ada buku yang isinya ringan yang rasanya pantas buat kurekomendasikan buat orang lain, selama di Jokja aku baru nemu kemarin itu (lagi-lagi) pas kebetulan ngeceng di Togamas. Judulnya “Anak Kos Dodol”, karangannya Mbak Dewi “Dedew” Rieka (nggak seru ini. Blognya di Multiply, alias nggak bakalan bisa ikutan ngasih komentar kalo kita bukan member Multiply juga), terbitannya Gradien Mediatama. Continue Reading


Tambah Dewasa, Katanya

Dengan mengendarai matic cap Mio punyanya Meli, temen esempeku, yang dititipin di rumah berhubung dia lagi mudik ke Denpasar, kemarin pagi aku jalan-jalan ke De Plonthos yang tempatnya di dekat prapatan Kentungan itu. Niatnya aku mau potong rambut di situ berhubung tempat itu memang tempat buat potong rambut. Iya, rambutku – yang bagian depannya di-bleach itu, yang kata Mbak Tikabanget, mirip jambul ayam – itu mau kupotong. Kenapa aku tiba-tiba memutuskan untuk potong di situ, padahal sebelumnya belum pernah, jawabannya simpel: aku nggak mungkin bisa cukur rambut di depan Bank Mandiri UGM, masalahnya. Soale di Mandiri UGM adanya cuma tukang tambal ban sama penjual bensin eceran. Jadi nggak mungkin, kan, aku cukur rambut di situ? Masak iya aku mau mempermak rambutku di tukang tambal ban? Yang bener aja, dong, ah, duhai sidang pembaca yang dirahmati Allah. Continue Reading


Pages:1...30313233343536...41